Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Februari 2011

BENARKAH MAKANAN TIDAK BERPENGARUH TERHADAP GEJALA ALERGI PADA BAYI ?


PENGARUH DIET IBU BAGI BAYI DENGAN RIWAYAT  ALERGI


CASE PREVIEW
Seorang ibu cemas karena Sandika, putra pertama berumur 1 bulan sering rewel, muntah, sering ngeden, napas grok-grok, kulitnya bruntusan dan banyak gejala lainnya. Berbagai obat pernah diberikan dokyter tenyata gejala dan tanda gangguan tersebut tyetap hilang timbul. Tetapi saat seorang dokter menganjurkan menghindari makan tertentu, keluhan si bayi membaik. Ternyata konsumsi makanan ibu sangat berpengaruh terhadap bayinya saat menyusui.

DIET IBU MENYUSUI SANGAT BERPENGARUH TERHADAP BAYI
  • Pemberian nutrisi atau gizi yang baik amatlah penting selama kehamilan. Setiap jenis makanan yang dikonsumsi ibu akan berpengaruh sangat penting bagi bayi yang disusuinya. Bila nutrisi ibu kualitas gizi yang ada baik dan cukup maka kualitas ASI yang diberikan pada bayipun akan semakin baik.
  • Namun sebaliknya ternyata bila terdapat jenis makanan tertentu yang dikonsumsi ibu akan dapat melalui ASI yang dapat mengganggu bayi. Tetapi tidak semua bayi akan mengalami hal demikian. Biasanya hal ini terjadi pada bayi yang mengalami riwayat dan gejala alergi yang terjadi sejak lahir.
APAKAH ALERGI PADA BAYI ITU ?
  • Alergi termasuk gangguan yang menjadi permasalahan kesehatan penting pada usia anak. Gangguan ini ternyata dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi. Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak.
  • Melihat demikian luas dan banyaknya pengaruh alergi yang mungkin bisa terjadi, maka deteksi dan pencegahan alergi sejak dini sebaiknya dilakukan. Gejala serta faktor resiko alergi dapat dideteksi sejak lahir, bahkan mungkin sejak dalam kandungan. Alergi makanan tidak terjadi pada semua orang, tetapi sebagian besar orang mempunyai potensi menjadi alergi. Tampaknya sebagian besar orang bila dicermati pernah mengalami reaksi alergi. Namun sebagian lainnya tidak pernah mengalami reaksi alergi. Terdapat 3 faktor penyebab terjadinya alergi makanan, yaitu faktor genetik, imaturitas usus, pajanan alergi yang kadang memerlukan faktor pencetus. Pada bayi biasanya imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna masih sering terjadi, hal inilah yang menjadi penyebab utama tingginya kejadian alergi di usia anak.
  • Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi kronis yang kompleks dipengaruhi faktor genetik, lingkungan dan pengontrol internal. Berbagai sel mast, basofil, eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin merupakan komponen yang berperanan inflamasi.
BAGAIMANA GEJALA KLINIS ALERGI PADA BAYI ?
  • Gejala klinis terjadi karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ sasaran. Ahli alergi modern berpendapat serangan alergi atas dasar target organ (organ sasaran). Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya adalah batuk atau asma. Bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai gatal dan bercak merah di kulit. Bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi sering terjadi proses inflamasi kronis yang kompleks.
Manifestasi klinis yang sering dikaitkan dan diperberat karena reaksi alergi pada bayi.
  • GANGGUAN SALURAN CERNA : Gastrooesephageal Refluks, sering muntah, gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering rewel, gelisah dan kolik terutama malam hari. Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari. Kotoran berwarna hijau, gelap dan berbau tajam. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat. Lidah sering timbul putih (seperti jamur) dan air liur berlebihan (drooling atau ngiler). Bibir tampak kering mengelupas.
  • GANGGUAN KULIT : sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • GANGGUAN SALURAN NAPAS ; Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
  • Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu. Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi.
  • Sering berkeringat (berlebihan). Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun).>
  • Mempengaruhi gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
  • PROBLEM MINUM ASI : sering menangis (karena perut tidak nyaman) seperti minta minum sehingga berat badan lebih karena minum berlebihan. Sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang. Sering menggigit puting (agresif) sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi, karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.Beberapa gangguan perilaku yang sering dikaitkan dan diperberat oleh reaksi alergi pada bayi.
  • GANGGUAN NEUROLOGIS RINGAN : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus fisiologis). Kejang tanpa disertai
  • GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
    Usia kurang dari 1 bulan sudah bisa miring atau membalikkan badan.
    Usia kurang dari 6 bulan: mata/kepala bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak berlebihan, tidak bisa diselimuti (“dibedong”). Kepala sering digerakkan secara kaku ke belakang, sehingga posisi badan bayi “mlengkung” ke luar. Bila digendomg tidak senang dalam posisi tidur, tetapi lebih suka posisi berdiri. Sering bergerak, sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering jatuh dari tempat tidur.
  • GANGGUAN TIDUR (biasanya malam hari) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tiba-tiba duduk dan tidur lagi,
  • AGRESIF DAN EMOSI MENINGKAT, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran. Pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit puting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut.
  • GANGGUAN KONSENTRASI : cepat bosan terhadap mainan dan bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa memperhatikan. Tidak kerasan dalam ruangan yang sempit seperti box bayi dan ruangan sempit. Sering minta keluar ke tempat yang luas atau luar
  • GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI :
    Pada pola perkembangan motorik normal adalah bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan. Gangguan mengunyah atau menelan, tidak mau makan berserat seperti sayur dan daging atau terlambat kemampuan makan nasi tim (normal usia 9 bulan).
  • KETERLAMBATAN BICARA: Tidak mengeluarkan kata umur <>
  • IMPULSIF : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.
  • Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti ADHD (hiperaktif) dan AUTISME (hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi). TETAPI ALERGI BUKAN PENYEBAB AUTISM ATAU ADHD tetapi HANYA MEMPERBERAT
APAKAH YANG PALING MENGGANGGU AKIBAT YANG DITIMBULKAN PADA BAYI
?
Gangguan saluran cerna dan kulit akan paling sering terjadi. Saluran cerna paling mudah terjadi atau sangat mengganggu saat usia di bawah 3 bulan, dengan pertambahan usia akan semakin berkurang terutama setelah usia 2-7 tahun.
DIET JENIS APAKAH YANG DAPAT MENGGANGGU BAYI
  • Hingga saat ini untuk mencari penyebab alergi adalah merupakan kesulitan terbesar dalam penanganan penyakit alergi. Hal ini terjadi karena tes alergi yang direkomendasikan seperti tes kulit dan tes dan RAST spesifik, meskipun sangat sensitif tetapi spesifitasnya tidak terlalu tinggi. Sehingga masih belum memastikan penyebab alergi makanan. Memastikan penyebab alergi makanan atau gold standard (baku emas) adalah dengan DBPCFC (eliminasi provokasi makanan). Hal ini akan lebih terasa sulit pada penderita alergi yang berkaitan dengan pemberian ASI
  • Jenis makanan yang berpengaruh terhadap ASI
    1. Beresiko tinggi mengganggu bayi melalui pemberian ASI adalah ikan laut, kacang tanah, keju dan beberapa jenis buah termasuk durian, mangga, melon dan tomat. Sebaiknya makanan ini ditunda setelah usia 3-6 bulan.
    2. Sedangkan makanan yang beresiko sedang atau rendah adalah salmon, bandeng, telor, susu, ayam, jeruk, pisang dan sebagainya. Pada beberapa bayi mungkin mengganggu, tetapi pada umumnya tidak mengganggu. Sehingga pada banyak kasus makanan ini relatif aman, tetapi pada kasus tertentu yang berat terutama kolik, makanan ini harus dicermati.
    3. Jenis makanan yang relatif paling aman adalah : daging sapi, semua ikan air tawar (lele, gurami, patin dsbnya), sayur-sayuran, kacang kedelai, buah apel, alpukat, pir, pepaya.
APAKAH KUALITAS ASI AKAN TERGANGGU BILA IBU DIET MAKAN PENYEBAB ALERGI ?
  • Anggapan yang banyak terjadi adalah kulitas asi akan menurun bila ibu harus diet makanan. Sebenarnya pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Hal itu dapat terjadi bila ibu hanya menghindari makanan penyebab alergi tanpa mencari makanan penggantinya. Tetapi bila ibu mencari makanan pengganti, maka pendapaty tersebut sepenuhnya tidak benar. Contohnya : ibu tidak boleh makan ikan lauttetapi mungkin ikan salmon boleh, kacang tanah jangan tetapi kacang kedelai boleh dan seterusnya.
  • Seingkali ibu heran makanannya sudah aman ternyata tetap masih saja timbul gejala alergi tersebut. Hal ini terjadi karena ibu harus menghindari udang tetapi tetap makan krupuk udang atau terasi, sudah menghindari ikan laut tetapi makan ikan teri dan lain sebagainya.
ALERGI SULIT DIBEDAKAN DENGAN INFEKSI
  • PENYEBAB GEJALA ALERGI TERNYATA BUKAN HANYA MAKANAN, TETAPI KEJADIAN INFEKSI DAPAT MEMICU TIMBULNYA GEJALA ALERGI. Sehingga kadang ibu heran makanan sudah relatif aman tetapi ternyata masih saja gejala alergi tersebut timbul. Hal ini terjadi karena seringkali inbfeksi virus ringan seperti flu, dan sebaginya bila tidak cermat sulit terdeteksi. Karena, saat flu bayi tidak seperti anak besar pileknya tidak keluar banyak dan batuknya jarang karena refleks batuknya belum sempurna.
  • Untuk memastikan adanya infeksi biasanya disertai tampilan adanya bintik merah halus di kulit dada bayi atau bila dalam beberapa hari sebelumnya ada kontak orang dewasa yang sakit dengan gejala sakit tenggorok, pilek, demam, meriang, atau badan lemas dan nyeri seperti masuk angin dan kecapekan.
DAFTAR PUSTAKA
Clifford TJ, Campbell MK, Speechley KN, Gorodzinsky F. Infant colic: empirical evidence of the absence of an association with source of early infant nutrition. Arch Pediatr Adolesc Med. 2002;156 :1123 –1128
Clifford TJ, Campbell MK, Speechley KN, Gorodzinsky F. Sequelae of infant colic: evidence of transient infant distress and absence of lasting effects on maternal mental health. Arch Pediatr Adolesc Med. 2002;156 :1183 –1188
Hill DJ, Hosking CS. Infantile colic and food hypersensitivity. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2000;30(suppl) :S67 –S76
Räihä H, Lehtonen L, Huhtala V, Saleva K, Korvenranta H. Excessively crying infant in the family: mother-infant, father-infant and mother-father interaction. Child Care Health Dev. 2002;28 :419 –429
Barr RG. Colic and crying syndromes in infants. Pediatrics. 1998;102 :1282 –1286
Miller-Loncar C, Bigsby R, High P, Wallach M, Lester B. Infant colic and feeding difficulties. Arch Dis Child. 2004;89 :908 –912
Barr RG. Changing our understanding of infant colic. Arch Pediatr Adolesc Med. 2002;156 :1172 –1174
Miller AR, Barr RG. Infantile colic: is it a gut issue? Pediatr Clin North Am. 1991;38 :1407 –1423
Jakobsson I, Lothe L, Ley D, Borschel MW. Effectiveness of casein hydrolysate feedings in infants with colic. Acta Paediatr. 2000;89 :18 –21
Lucassen PL, Assendelft WJ, Gubbels JW, van Eijk JT, Douwes AC. Infantile colic: crying time reduction with a whey hydrolysate: a double-blind, randomized, placebo-controlled trial. Pediatrics. 2000;106 :1349 –1354
Jakobsson I, Lindberg T. Cow’s milk proteins cause infantile colic in breast-fed infants: a double-blind crossover study. Pediatrics. 1983;71 :268 –271
[Abstract/Free Full Text]
Evans RW, Fergusson DM, Allardyce RA, Taylor B. Maternal diet and infantile colic in breast-fed infants. Lancet. 1981;1 :1340 –1342
Hill DJ, Hudson IL, Sheffield LJ, Shelton MJ, Menahem S, Hosking CS. A low allergen diet is a significant intervention in infantile colic: results of a community-based study. J Allergy Clin Immunol. 1995;96 :886 –892
Barr RG, Kramer MS, Boisjoly C, Vey-White L, Pless IB. Parental diary of infant cry and fuss behaviour. Arch Dis Child. 1988;63 :380 –387
Wessel MA, Cobb SC, Jackson EB, et al. Paroxysmal fussing in infancy: sometimes called “colic. ” Pediatrics. 1954;14 :421 –434
Fleiss JL. Statistical Methods for Rates and Proportions. 2nd ed. New York, NY: John Wiley & Sons; 1981
Machtinger S, Moss R. Cow’s milk allergy in breast-fed infants: the role of allergen and maternal secretory IgA antibody. J Allergy Clin Immunol. 1986;77 :341 –347
Jakobsson I, Lindberg T, Benediktsson B, Hansson BG. Dietary bovine ß-lactoglobulin is transferred to human milk. Acta Paediatr Scand. 1985;74 :342 –345
Sorva R, Mäkinen-Kiljunen S, Juntunen-Backman K. ß-Lactoglobulin secretion in human milk varies widely after cow’s milk ingestion in mothers of infants with cow’s milk allergy. J Allergy Clin Immunol. 1994;93 :787 –792
Kilshaw PJ, Cant AJ. The passage of maternal dietary proteins into human breast milk. Int Arch Allergy Appl Immunol. 1984;75 :8 –15
Vadas P, Wai Y, Burks W, Perelman B. Detection of peanut allergens in breast milk of lactating women. JAMA. 2001;285 :1746 –1748
Chirdo FG, Rumbo M, Anon MC, Fossati CA. Presence of high levels of non-degraded gliadin in breast milk from healthy mothers. Scand J Gastroenterol. 1998;33 :1186 –1192
Järvinen KM, Mäkinen-Kiljunen S, Suomalainen H. Cow’s milk challenge through human milk evokes immune responses in infants with cow’s milk allergy. J Pediatr. 1999;135 :506 –512
Harris MJ, Petts V, Penny R. Cow’s milk allergy as a cause of infantile colic: immunofluorescent studies on jejunal mucosa. Aust Paediatr J. 1977;13 :276 –281
Lothe L, Lindberg T, Jakobsson I. Macromolecular absorption in infants with infantile colic. Acta Paediatr Scand. 1990;79 :417 –421
Kalliomäki M, Laippala P, Korvenranta H, Kero P, Isolauri E. Extent of fussing and colic type crying preceding atopic disease. Arch Dis Child. 2001;84 :349 –350
Iacono G, Carroccio A, Montalto G, et al. Severe infantile colic and food intolerance: a long-term prospective study. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 1991;12 :332 –335
Lothe L, Ivarsson SA, Ekman R, Lindberg T. Motilin and infantile colic: a prospective study. Acta Paediatr Scand. 1990;79 :410 –416
Liu J, Qiao X, Zian W, Hou X, Hayes J, Chen JD. Motilin in human milk and its elevated plasma concentration in lactating women. J Gastroenterol Hepatol. 2004;19 :1187 –1191
[CrossRef][ISI][Medline]
Shenassa ED, Brown MJ. Maternal smoking and infantile gastrointestinal dysregulation: the case of colic. Pediatrics. 2004;114 (4). Available at:
www.pediatrics.org/cgi/content/full/114/4/e497
Savino F, Brondello C, Cresi F, Oggero R, Silvestro L. Cimetropium bromide in the treatment of crisis in infantile colic. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2002;34 :417 –419
Lucassen PL, Assendelft WJ, Gubbels JW, van Eijk JT, van Geldrop WJ, Neven AK. Effectiveness of treatments for infantile colic: systematic review. BMJ. 1998;316 :1563 –1569
Mofidi S. Nutritional management of pediatric food hypersensitivity. Pediatrics. 2003;111 :1645 –1653.
http://childrenallergyclinic.wordpress.com/
~Stay Cool and Lovely ~

MENGAPA DENGAN ASI EKSLUSIF ANAKKU MASIH SERING SAKIT


 EKSLUSIF AKAN JARANG SAKIT



MENGAPA DENGAN ASI EKSLUSIF ANAKKU MASIH
SERING SAKIT
.
LATAR BELAKANG
  • Secara teoritis pemberian ASI ekslusif dengan segala kehebatannya seharusnya bayi yang mendapatkannya tidak mengalami infeksi virus usia di bawah 6 bulan. Tetapi ternyata masih saja kelompok bayi dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang. Beberapa bayi dengan ASI ekslusif tersebut ternayata setiap bulan mengalami infeksi virus seperti demam, batuk dan pilek atau diare. Hal ini terjadi bukan karena ASI tidak mempunyai manfaat dalam pertahanan tubuh. Tetapi menunjukkan bahwa proses terjadinya infeksi bukan hanya dipengaruhi oleh ASI tetapi juga dipengaruhi oleh mekanisme pertahan tubuh bayi dan faktor lingkungan.
  • Widodo Judarwanto, 2007 telah mengadakan penelitian terhadap 32 anak dengan ASI ekslusif yang mengalami infeksi berulang saat usia di bawah 6 bulan di Children Allergy Center, Rumah Sakit Bunda Jakarta. Ternyata sebagian besar penderita mengalami gejala alergi dengan gangguan saluran cerna diantaranya, sering muntah, buang air besar yang sering > 4 kali perhari dan konstipasi atau sulit buang air besar.
  • Mengapa bayi dengan gangguan saluran cerna mempunyai mekanisme pertahan tubuh yang buruk? Karena, ternyata sebagaian besar mekanisme pertahanan tubuh khususnya pembentukan IgA terjadi dipencernaan. Bila saluran cerna terganggu maka pertahan tubuh lemah dan anak akan menjadi sering sakit.
  • Fakta lain yang didapatkan bayi dengan ASI eksklusif yang sering sakit tersebut ternyata didapatkan kecenderungan di dalam lingkungan rumah juga ada yang sering mengalami infeksi berulang seperti ayah, ibu atau kakaknya.
  • Infeksi berulang pada bayi adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.
  • Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif jarang terjadi.
  • Penderita infeksi berulang pada bayi sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis, otitis media, gagal tumbuh, overtreatment antibiotika, overtreatment tonsilektomi, overdiagnosis tuberkulosis. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar. Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.
PENGERTIAN INFEKSI BERULANG
  • Tampaknya hingga saat ini belum ada definisi baku yang tepat dalam menjelaskan kriteria infeksi berulang pada anak. Dikatakan infeksi berulang pada anak bila infeksi sering dialami oleh seorang anak. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.
  • Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat bahwa pada anak normal usia
  • Pada infeksi berulang biasanya didapatkan kerentanan dalam timbulnya gejala klinis suatu penyakit, khususnya demam. Bila terjadi demam sering sangat tinggi atau lebih 39oC. Dengan penyakit yang sama anak lain mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5oC. Biasanya penderita lebih beresiko mengalami pnemoni, mastoiditis, sepsis, osteomielitis, ensefalitis dan meningitis.
FAKTOR PENYEBAB
  • Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang pada anak, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (alergi) atau kekurangan serta penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas.
  • Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu didapatkan perbedaan pada kerentanan terhadap infeksi. Anak laki-laki lebih sering mengalami gangguan ini. Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Kelompok anak yang mengikuti sekolah prasekolah lebih sering mengalami infeksi 1,5-3 kali dibandingkan dengan anak yang tinggal di rumah. Perokok pasif kemungkinan dua kali lipat untuk terkena infeksi. Jumlah anggota keluarga dirumah meningkatkan terjadinya infeksi. Keluarga dengan jumlah 3 orang hanya didapatkan 4 kali infeksi pertahun sedangkan jumlah keluarga lebih dari 8 didapatkan lebih 8 kali infeksi pertahun.
MEKANISME PERTAHANAN TUBUH
  • Sistem kekebalan tubuh sendiri diartikan sebagai semua mekanisme yang digunakan oleh tubuh untuk menangkal pengaruh faktor atau zat yang berasal dari lingkungan, yang asing bagi tubuh kita.
  • Secara garis besar, sistem kekebalan tubuh kita dibagi menjadi dua bagian, yaitu sistem kekebalan alami (innate immunity) dan sistem kekebalan dapatan (acquired immunity) yang keduanya saling bekerja sama menangkal zat asing dari luar tubuh yang tentu apabila dibiarkan akan berbahaya bagi tubuh.
  • Salah satu sistem kekebalan tubuh manusia adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan kerusakan tubuh/penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh. Sistem kekebalan atau pertahanan tubuh yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis.
  • Pertahanan fisik berupa kulit dan selaput lender sedangkan kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung. Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan selaput lendir. Pertahanan fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing.
  • Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh leukosit.
  • Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. Senyawa kimia yang berperan adalah HCl. Senyawa kimia ini terdapat dalam lambung kita, yang dihasilkan oleh sel di dinding lambung sebagai respon terhadap adanya makanan yang masuk ke dalam lambung. Selain berfungsi dalam menghancurkan makanan yang masuk ke dalam lambung, HCl juga berfungsi sebagai penghalang terhadap mikroorganisme yang masuk ke dalam lambung karena sifatnya yang asam. Banyak bakteri atau mikroorganisme yang tidak tahan hidup pada pH lambung yang besarnya sekitar 4. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Enzim, yang terdapat dalam cairan-cairan di tubuh yang memiliki peranan penting dalam pertahanan tubuh terhadap zat asing. Enzim adalah suatu protein yang bertindak sebagai katalis biologi. Salah satu enzim yang sangat terkenal dalam sistem kekebalan tubuh kita adalah lisozim. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Lisozim banyak terdapat dalam cairan tubuh seperti air mata dan ingus. Enzim lain yang juga ikut berperan dalam pertahanan tubuh adalah enzim proteolisis yang banyak terdapat dalam usus halus. Enzim ini akan membunuh mikroorganisme yang berhasil mencapai usus dengan mendegradasi (menghancurkan) protein mikroorganisme tersebut.
  • Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh.
ASI DAN MEKANISME PERTAHANAN TUBUH
  • Dipandang dari sudut pertahanan tubuh, ASI mengandung berbagai zat yang berfungsi sebagai pertahanan nonspesifik maupun spesifik. Pertahanan nonspesifik diperankan oleh sel seperti makrofag dan neutrofil serta produknya dan faktor protektif larut, sedangkan sel spesifik oleh sel limfosit dan produknya. Di dalam ASI terdapat banyak sel, terutama pada minggu-minggu pertama laktasi.
  • Kolostrum dan ASI dini mengandung 1-3 x 106 leukosit/ml. Pada ASI matur, yaitu ASI setelah 2-3 bulan laktasi, jumlah sel ini menurun menjadi 1×103 /ml. Sel monosit/makrofag sebanyak 59-63%, sel neutrofil 18-23% dan sel limfosit 7-13% dari seluruh sel dalam ASI.
  • Selain sel terdapat juga faktor protektif larut seperti lisozim (muramidase), laktoferin, sitokin, protein yang dapat mengikat vitamin B12, faktor bifidus, glyco compound, musin, enzim-enzim, dan antioksidan. Sel makrofag ASI merupakan sel fagosit aktif sehingga dapat menghambat multiplikasi bakteri pada infeksi mukosa usus.
  • Makrofag ASI dapat mencegah enterokolitis nekrotikans pada bayi dengan menggunakan enzim yang diproduksinya. Pada vakuola neutrofil ASI ditemukan juga sIgA sehingga sel ini merupakan alat transport IgA ke bayi.
  • Sel neutrofil ASI merupakan sel yang teraktivasi. Peran neutrofil ASI pada pertahanan bayi tidak banyak, respons kemotaktiknya rendah. Antioksidan dalam ASI menghambat aktivitas enzimatik dan metabolik oksidatif neutrofil. Diperkirakan perannya adalah pada pertahanan jaringan payudara ibu agar tidak terjadi infeksi pada permulaan laktasi.
  • Pada ASI tidak ditemukan sel basofil, sel mast, eosinofil dan trombosit, karena itu kadar mediator inflamasi ASI adalah rendah. Hal ini menghindarkan bayi dari kerusakan jaringan berdasarkan reaksi imunologik.
  • Lisozim yang diproduksi makrofag, neutrofil, dan epitel kelenjar payudara dapat melisiskan dinding sel bakteri Gram positif yang ada pada mukosa usus. Kadar lisozim dalam ASI adalah 0,1 mg/ml yang bertahan sampai tahun kedua laktasi, bahkan sampai penyapihan. Dibanding dengan susu sapi, ASI mengandung 300 kali lebih banyak lisozim per satuan volume.
  • Komplemen C3 dapat diaktifkan oleh bakteri melalui jalur alternatif sehingga terjadi lisis bakteri. Di samping itu C3 aktif juga mempunyai sifat opsonisasi sehingga memudahkan fagosit mengeliminasi mikroorganisme pada mukosa usus yang terikat dengan C3 aktif. IL-l yang diproduksi makrofag akan mengaktifkan sel limfosit T.
  • Demikian pula TNF-α yang diproduksi sel makrofag akan meningkatkan produksi komponen sekretori oleh sel epitel usus dan TNF-β akan merangsang alih isotip ke IgA, sedangkan IL-6 akan meningkatkan produksi IgA. Semuanya ini akan meningkatkan produksi sIgA di usus. Laktoferin yang diproduksi makrofag, neutrofil dan epitel kelenjar payudara bersifat bakteriostatik, dapat menghambat pertumbuhan bakteri, karena merupakan glikoprotein yang dapat mengikat besi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan sebagian besar bakteri aerobik seperti stafilokokus dan E. coli. Laktoferin dapat mengikat dua molekul besi ferri yang bersaing dengan enterokelin kuman yang juga mengikat besi. Kuman yang kekurangan besi ini pembelahannya akan terhambat sehingga berhenti memperbanyak diri.
SERING DIALAMI PENDERITA ALERGI
  • Namun demikian dengan begitu banyaknya zat kekebalan di dalam ASI akan tidak akan optimal bila faktor tubuh bayi sendiri mempunyai masalah. Infeksi berulang sering dialami penderita gangguan mekanisme sistem kekebalan tubuh berupa ”overactive” system kekebalan (alergi) dan “underactive” sistem kekebalan (defisiensi imun). Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri.
  • Gangguan defisiensi sistem kekebalan juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi. Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.
  • Penderita alergi terus meningkat tajam dalam beberapa tahun terahkir ini. Alergi dapat mengganggu semua organ atau sistem tubuh kita tanpa terkecuali. Berdasarkan mekanisme pertahanan tubuh yang dijelaskan sebelumnya tampaknya gangguan saluran cerna dan asma sering mengganggu mekanisme pertahanan tubuh. Alergi makanan tampaknya ikut berperanan penting dalam dalam gangguan ini.
KARAKTERISTIK BAYI YANG SERING SAKIT DENGAN ASI EKSLUSIF YANG MEMPUNYAI RIWAYAT HIPERSENSITIF PADA SALURANCERNA :
  • GANGGUAN SALURAN CERNA : Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering REWEL / GELISAH/COLIK terutama malam hari), Sering buang air besar (> 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, BERAK DARAH. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat.
GEJALA LAIN YANG MENYERTAI
  • Kulit sensitif, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau.
  • Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru).
  • Napas grok-grok, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (>7hari) dan dahak berlebihan )
  • Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan <>
  • Sering bersin, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak.
  • Mata sering berair atau sering timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi/kedua sisi. · Sering berkeringat (berlebihan)
  • Karena minum yang berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur <1tahun).>
  • Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat.
  • Mempengaruhi gangguan hormonal : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih
PENANGANAN
  • Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang pada bayi dengan ASI ekslusif harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Yang harus diperhatikan apakah anak tersebut mengalami gejala alergi atau gangguan fungsi saluran cerna. Bila pada bayi mengalami gejala alergi mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi.
  • Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran makanan tertentu harus dilakukan. Pemberian ASI ekslusif harus memperhatikan pola makan ibu saat pemberian ASI.
  • Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan penitipan anak saat ibu bekerja.
  • Pemberian imunisasi terutama influenza, pneumococcal dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat mungkin akan memperparah masalah yang sudah ada.
  • Pemberian imunisasi dan ”vitamin daya tahan tubuh” seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki.
  • Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer.
DAFTAR PUSTAKA
· Wald ER, Guerra N, Byers C. Frequency and severity of infections in day care: three-year follow-up. J Pediatr 1991;118(4 (Pt 1)):509-14
· American Academy of Pediatrics Committee on Infectious Diseases. Recommendations for Influenza Immunization of Children. Pediatrics 2004;113(5):1441-7
· Fahey T, Stocks N, Thomas T. Systematic review of the treatment of upper respiratory tract infection. Archives of Diseases in Childhood 1998;79:225–230
· Judarwanto W. Recurrent Infection in Infant under 6 months old with breastfeeding.
· Yang KD, Hill HR. Neutrophil function disorders: pathophysiology, prevention, and therapy. J Pediatr 1991;119:343-54.
· Wheeler JG, Steiner D. Evaluation of humoral responsiveness in children. Pediatr Infect Dis J 1992;11:304-10.
· Martinez FD, Wright AL, Taussig LM, Holberg CJ, Halonen M, Morgan WJ. Asthma and wheezing in the first six years of life. The Group Health Medical Associates. N Engl J Med 1995;332:133-8.
· Conley ME, Stiehm ER. Immunodeficiency disorders: general considerations. In: Stiehm ER, ed. Immunologic disorders in infants and children. 4th ed. Philadelphia: Saunders, 1996:201-52.
· Moss RB, Carmack MA, Esrig S. Deficiency of IgG4 in children: association of isolated IgG4 deficiency with recurrent respiratory tract infection. J Pediatr 1992;120:16-21.
~Stay Cool and Lovely ~

PERSIAPAN PENYAJIAN ASI : MEMERAH DENGAN JA

MEMERAH DENGAN JARI

  • Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari.
  • Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara.
  • Tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan.
  • Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.
~Stay Cool and Lovely ~

CARA PEMBERIAN ASI DI RUMAH SAAT IBU BEKERJA

  • Ketika memberikan ASI perah pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan.
  • Beberapa buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan running tap water, tapi di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh).
  • Adapun lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung.
  • Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi “bingung puting”. Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar. Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan.
  • Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi, kok. Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan.


~Stay Cool and Lovely ~

CARA MEMERAH ASI SAAT IBU BEKERJA ATAU UNTUK PERSIAPAN PENYEDIAAN ASI SEBELUM IBU BEKERJA



TEHNIK MEMERAH ASI SAAT IBU BEKERJA
  1. Letakkan ibu jari di atas kalang payudara dan jari telunjuk serta jari tengah di bawah sekitar 2,5 ­3,8 cm di belakang puting susu membentuk huruf C. Anggaplah payudara sebagai jam, maka posisi/arah ibu jari berada pada jam 12, dua jari lain berada di posisi jam 6. Ibu jari dan jari telunjuk serta jari tengah saling berhadapan. Jari-jari diletakkan sedemikian rupa sehingga “gudang” ASI berada di bawahnya.
  2. Tekan lembut ke arah dada tanpa memindahkan posisi jari-jari tadi. Payudara yang besar dianjurkan untuk diangkat lebih dulu. Kemudian ditekan ke arah dada.
  3. Buatlah gerakan menggulung (roll) dengan arah ibu jari dan jari-jari ke depan untuk memerah ASI keluar dari gudang ASI yang terdapat di bawah kalang payudara di belakang puting susu. Jangan menggesekkan ibu jari dan jari-jari pada kulit karena akan menimbulkan rasa sakit atau nyeri.
  4. Ulangi gerakan-gerakan tersebut (1,2,3) sampai aliran ASI berkurang. Kemudian pindahkan lokasi ibu jari ke arah jam 11 dan jari-jari ke arah jam 5, lakukan kembali gerakan memerah seperti tadi.
  5. Lakukan pada kedua payudara secara bergantian. Begitu tampak ASI memancar dari puting susu, itu berarti gerakan tersebut sudah benar dan berhasil menekan gudang ASI. Jangan lupa untuk meletakkan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperah.
Seluruh prosedur persiapan dan pemerahan dengan tangan membutuhkan waktu sekitar 20-30 menit, meliputi:
- Massage, stroke, dan shake.
- Perah kedua payudara selama 5-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 3-7 menit tiap payudara.
- Massage, stroke dan shake.
- Perah kedua payudara selama 2-3 menit tiap payudara


~Stay Cool and Lovely ~

Jarang Menyusui, Mengurangi Produksi ASI


HAMIL dan melahirkan adalah anugerah terbesar bagi seorang wanita. elanjutnya, predikat sebagai seorang ibu menjadi lengkap ketika dia berhasil menyusui buah hatinya.
Menyusui merupakan suatu aktivitas psikososial yang bisa mendatangkan kebahagiaan tersendiri, terutama bagi ibu yang baru memiliki anak pertama. 

Menyusui memang menjadi kodrat seorang ibu. Bahkan, jika memungkinkan, idealnya bayi lekas disusui segera setelah dilahirkan. “Begitu terdengar lengking tangis bayi mengawali kehadirannya di muka bumi, tali pusat digunting, bayi pun ditaruh di atas perut ibu agar dapat merasakan kedekatan emosional. Si kecil pun segera mencari puting susu ibu dan mulai menetek,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli, Dr Purnamawati S Pujiarto SpA (K) MMPed.

Dia menambahkan, gagalnya seorang ibu memberi ASI eksklusif sebagian besar sebenarnya disebabkan hal yang bisa dicegah. “Yang kurang hanya dukungan, baik dari keluarga terdekat maupun petugas kesehatannya itu sendiri,” sebutnya.

Saat menyusui, seorang ibu memerlukan ketenangan pikiran dan sebaiknya jauh dari perasaan tertekan (stres) karena akan berpengaruh terhadap produktivitas ASI dan kenyamanan bayi saat menyusu. “Kuantitas ASI juga tergantung dari isapan bayi yang dapat merangsang hormon prolaktin untuk memproduksi ASI berikutnya,” kata spesialis anak dari Sentra Laktasi, Dr Nanis Sacharina Marzuki SpA.
Mungkin itulah sebabnya ketika ibu mulai jarang menyusui produksi ASI-nya juga kian berkurang. Bahkan, menurut pengakuan beberapa ibu, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali (kering).

Secara teknis, faktor penyebab berkurangnya produksi ASI, antara lain karena setelah lahir bayi tidak langsung disusui dan ASI tidak diperah. Padahal jika payudara tetap penuh, maka akan terbentuk PIF (Prolacting Inhibiting Factor), yaitu zat yang menghentikan pembentukan ASI. Sedangkan secara psikologis, berkurangnya ASI bisa disebabkan rasa khawatir, stres, rasa nyeri, dan rasa ragu yang dirasakan si ibu.

“Terkadang ibu merasa tidak percaya diri karena ASI-nya kurang. Ditambah lagi pendapat dan saran yang salah dari orang lain menyebabkan ibu cepat berubah pikiran dan jadi stres. Akibatnya bisa menekan refleks sehingga ASI tidak terproduksi dengan baik,” tutur Nanis.

Perlekatan yang tidak tepat antara mulut dan puting susu ibu juga bisa menyebabkan nyeri dan puting menjadi lecet sehingga ASI tidak keluar dengan lancar. Adapun perlekatan yang baik adalah dagu bayi menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah terputar ke bawah dan sebagian besar areola (puting susu) ibu masuk ke mulut bayi. “Untuk meningkatkan jumlah ASI, cobalah berpikir dengan penuh kasih sayang pada bayi,” saran Nanis.

sumber : okezone.com

~Stay Cool and Lovely ~

BAGAIMANA BILA ANDA BERHENTI LAKTASI KEMUDIAN INGIN MEMBERIKAN ASI LAGI


Relaktasi

Dari Asuh Indonesia
Langsung ke: navigasi, cari
‘
Saat ini mulai banyak para ibu & ayah yg menyadari pentingnya ASI bagi sang anak. Tapi saat ia menyusui anaknya banyak sekali kendala yg ditemui spt tekanan dari lingkungan, minimnya pengetahuan sang ibu & ayah, dsb sehingga menyebabkan ia gagal menyusui dg baik. Akibatnya produksi ASI berkurang & karenanya bayi malas menyusu hingga ASI betul2 ”kering”. Beberapa mg yg lalu ada pertanyaan menarik dari beberapa teman saya, bisa gak ya seorg ibu yg telah lama berhenti menyusui kemudian ingin kembali menyusui anaknya ? Jawabannya sangat bisa.Jadi jika ibu tsb memutuskan kembali menyusui anaknya setelah berhenti menyusui sama sekali eberapa lama, ini lah yg disebut dg Relaktasi atau kembali menyusui
Silakan hubungi ahli laktasi di klinik laktasi agar anda mendapat bimbingan untuk mencapai tujuan relaktasi anda.
Mungkinkan?
Mungkinkah ibu yg sudah berhenti menyusui kemudian menyusu kembali ?
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah mungkin seorang ibu yg sudah tidak menyusui selama 2 bulan katakan dan ASInya betul2 kering, kemudian bisa menyusui kembali ? Saat ini di dunia laktasi, relaktasi sangat mungkin dilakukan oleh tiap ibu. Meski perlu diketahui bahwa selama masa “istirahat” dari kegiatan menyusui, produksi ASI mungkin menjadi jauh berkurang atau bahkan terhenti. Nah pada saat sang ibu hendak menyusui kembali, seluruh organ produksi ASI butuh waktu untuk “mempersiapkan diri” agar dapat bekerja kembali & siap memproduksi ASI.
Bahkan saat ini di belahan dunia sana, mulai banyak para ibu adopsi berhasil menyusui bayi adopsinya, meski sang ibu adopsi tsb tidak/belum pernah hamil. Tentu saja dg semangat yg kuat, support yg bagus & juga teknik tertentu.
Lamanya Relaktasi
Sehubungan dg masa “persiapan” organ ASI, ada beberapa hal yang perlu diingat, yaitu tiap wanita membutuhkan waktu yg berbeda untuk menghasilkan ASI. Mungkin ada beberapa ibu yg membutuhkan waktu beberapa hari saja untuk memproduksi ASI secara optimal. Tetapi bila sang ibu berhenti menyusui untuk waktu yg cukup lama, maka biasanya perlu waktu antara 1-2 minggu agar produksi ASI kembali spt semula. Selain itu, usia anak juga memperngaruhi. Misalkan, akan lebih mudah dan lebih cepat bagi tubuh untuk menghasilkan ASI kembali, bila si kecil masih berumur < 2 bulan dibandingkan bila si kecil sudah berumur > 6 bulan. Tapi bukannya mustahil ya[1].
Proses Relaktasi
Bagaimana sih caranya si ibu ini bisa menghasilkan ASI padahal ia sudah berhenti menyusui selama beberapa waktu ?
Memang ada teknik-teknik khusus untuk kembali membuat si organ produksi ASI bekerja kembali. Tapi intinya ada 2 hal, yaitu dilakukan stimulasi pada payudara & organ2 produksi ASI dg cara dipompa atau diperas. Kedua, mengajarkan kembali sang anak bagaimana cara menyusu di payudara sang ibu. Disini biasanya dibutuhkan alat bantu menyusui spt Lactation-aid.
Berikut adalah tips-tips utk menjalankan relaktasi:
1.   Siapkan mental & cari dukungan sebanyak2nya. Relaktasi butuh waktu dan kesabran tinggi. Seringkali ibu merasa putus asa. Karenanya ia butuh dukungan & bantuan dari orang2 terdekatnya (suami, teman, keluarga).
2.   Hubungi & konsultasi klinik laktasi. Anda butuh arahan & support dari ahli laktasi. Utk melakukan relaktasi butuh teknik2 khusus & treatment khusus dari ahli laktasi. Spt pemberian obat2an tertentu utk membantu hormon produksi ASI (oksitosin) bekerja baik.
3.   Susuilah si kecil secara teratur dan sesering mungkin. Juga di sela2 masa menyusui, ibu disarankan utk melakukan pemijatan & pemerahan / pemompaan pada payudara untuk membantu menstimulasi produksi ASI.
4.   Di awal2 menyusui, mungkin anda membutuhkan lactation aid, yaitu alat berupa kantung berisi ASI donasi atau susu formula yg digantungkan di leher dan disambungkan ke selang halus yg ditempel di putting payudara ibu. Sehingga ketika anak menyusu, ia melakukan 2 hal sekaligus : mendapatkan nutrisi dari ASI donasi / susu formula & hisapan bayi akan menstimulasi organ produksi ASI yg ada dibawah putting & areola.
5.   Lakukan saat ibu & anak dalam keadaan relax. Jangan pernah memaksa anak utk menyusu. Jika ia menolak atau kelelahan dsb tentu akan mengganggu proses jalannya relaktasi. Tunda hingga kondisinya nyaman utk semua. Jika terus dipaksakan bisa2 anak jadi trauma dan ibu jadi frustasi.
6.   Sering juga lakukan skin-to-skin contact dg merebahkan anak di dada sang ibu saat ia sedang tidak menyusu. Dan ini sgt dianjurkan pada bayi.
7.   Tingkatkan konsumsi makanan yg sehat & bergizi, agar produksi ASI optimal.
Memang masalah relaktasi ini terdengar awam bagi kebanyakan org dan masyarakat kita. Tapi informasi yg perlu diketahui oleh para ortu adalah relaktasi itu dapat & sangat mungkin dilakukan.


~Stay Cool and Lovely ~

JANGAN TERBURU MEMVONIS BAHWA ASI ANDA KURANG, CERMATI DENGAN TELITI BEBERAPA FAKTOR YANG BERPENGARUH

BENARKAH ASI SAYA KURANG

Kapan Biasanya Ibu-ibu Merasa ASInya Kurang?
·         Saat bayi sering rewel terus atau nangis terus atau mulutnya mencario putting terus, meskipun baru saja diberi ASI. Waspadalah tanda haus palsu pada bayi.
·         Namun, sewaktu waktu, ada saatnya bayi mengalami lonjakan pertumbuhan (growth spurts), selama kira-kira 2-3 hari. Growth spurts itu seringkali terjadi umur 3 minggu, 6 minggu, 3 bulan, dan 6 bulan. Saat itu, bayi akan membutuhkan lebih banyak susu dari sebelumnya, sehingga dia akan meminta ASI lebih sering bahkan setiap setengah jam, selama 2-3 hari itu. Tidak apa apa, turuti saja kemauan bayi itu seberapa seringnya pun, karena payudara anda akan beradaptasi dengan membuat ASI lebih banyak lagi. Setelah beberapa hari, jarak antar menyusui akan menjadi lebih jarang kembali. Intinya, kalau nangis, sodorkan payudara!


Apa yang Menyebabkan Anda Berpikir bahwa ASInya kurang?
Karena orangtua / mertua / suami / oranglain bilang begitu
Pertanyaan pertama, dari mana mereka mengetahui hal tersebut? Apakah mereka mengikuti prosedur untuk mengetahui bayi cukup ASI atau hanya sekedar ngomong?
  • Benarkah bayi menangis terus karena lapar,
  • Bemarkah berat badan bayi korang karena ASI KURANG

Karena dokter saya bilang begitu
Meski dokter adalah seorang profesional medis, belum tentu ia memiliki banyak pengetahuan tentang ASI. Apakah dokter memberikan basis ilmiah dalam memberi diagnosa demikian terhadap anda? Apakah dokter melakukan pemeriksaan pada bayi seperti dalam artikel bayi cukup ASI, seperti ditimbang, periksa dehidrasi, dsb? Diagnosa dokter yang tepat sasaran akan melihat bayinya terlebih dahulu untuk mengetahui apakah bayi cukup ASI, tetapi tidak terburu-buru menghakimi bahwa si ibu kurang ASI, apalagi terburu-buru meresepkan susu formula tanpa merujuk si ibu kepada konsultan laktasi profesional. Jika anda ragu akan keputusan dokter, anda selalu berhak untuk mencari second opinion kepada dokter atau konsultan laktasi profesional lainnya. 

Karena bayi menangis terus
Anak yang menangis terus dianggap belum kenyang. Padahal menangis bukan semata-mata karena ia lapar. Bisa jadi dia ingin diganti popoknya, ingin sendawa, menderita kolik, atau cuma ingin digendong saja. Banyak faktor.
Jadi tangisan bayi bukan patokan. Bacalah artikel bayi cukup ASI untuk mengetahui apakah bayi menerima cukup ASI. 

Karena bayi baru tenang apabila sudah diberi susu formula atau MPASI
Banyak ibu yang beranggapan bahwa bayinya kelaparan dan akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meskipun tidak ada relevansinya banyak yang beranggapan hal ini benar. Padahal, karena belum sempurna, sistem pencernaannya harus bekerja lebih keras utk mengolah & memecah makanan. 

Belum lagi masih banyak anggapan di masyarakat kita khususnya dari generasi terdahulu yang belum tentu benar. Misalnya, ada orang tua bercerita bahwa ia sudah memberi makan bayinya pisang sejak umur 2 bulan dan tidak menimbulkan masalah apapun. Alasan lain, misalnya tekanan dari lingkungan dan tidak adanya dukungan, juga gencarnya iklan makanan tambahan bayi yg belum mengindahkan ASI eksklusif bulan. 

Bayi kelihatan lebih kenyang apabila diberi susu formula atau MPASI karena makanan tersebut lebih sulit dicerna oleh bayi. ASI memang lebih mudah dicerna, dan kapasitas lambung bayi kecil sekali, sehingga bayi yang diberi ASI ekslusif akan lebih sering menyusu daripada bayi yang diberi susu formula atau MPASI. 

Karena bayi sering sekali meminta ASI, tetapi jika diberi susu formula atau MPASI dia tidak meminta lagi
Lihat sub-bab di atas, bahwa susu formula dan MPASI lebih sulit dicerna. Tidak ada patokan seberapa sering bayi meminum ASI, malah sangat baik apabila diberikan secara demand feeding. 

Karena payudara saya tidak mengeluarkan ASI jika dipencet
Sekali lagi, lihatlah perkembangan bayi dahulu, apakah ia menerima cukup ASI. Jika bayi baik-baik saja meski ASI tidak keluar waktu payudara dipencet, tidak apa-apa. Tetapi jika ada tanda-tanda yang kurang meyakinkan dari bayi anda, atau apabila anda ragu, jangan sungkan mencari bantuan profesional untuk ASI. 

Karena berat badan (BB) bayi tidak bertambah dari BB saat lahir
Lihatlah perkembangan bayi, apabila BB bayi sejak hari ke-4 tidak bertambah dan bayi sering rewel. Kemungkinan bayi anda mengalami gagal ASI. Pergilah segera dengan membawa bayi anda ke klinik laktasi terdekat untuk mendapatkan konsultasi manajemen laktasi.
Tindakan Apabila Anda Khawatir ASI Kurang
Berikut adalah langkah demi langkah
  1. Cek untuk konfirmasi apakah bayi anda menderima cukup ASI. Bagaimana caranya?
  2. Carilah second opinion dari orang lain yang mendukung ASI, misalnya dengan cara
    • Melalui pencarian informasi di buku dan internet
    • Menghubungi support group ASI, misalnya AIMI
    • Menghubungi via telpon ke
    • Menghubungi konselor menyusui untuk mengecek masalah anda
  3. Meminta analisa profesional
  4. Melakukan cara-cara memperbanyak ASI, terutama apabila para profesional sudah mengkonfirmasi bahwa memang bayi kurang mendapat ASI.
  5. Apabila anda sudah berniat untuk ASI eksklusif dan bermaksud untuk mempertahankannya, hindari pemberian susu formula, kecuali apabila para profesional di atas menganjurkannya dengan alasan medis

Prosedur Mengetahui Apakah Bayi Menerima Cukup ASI
Silakan baca artikel utama mengenai bayi cukup ASI.
Prosedur untuk Menghindari ASI Menjadi Sedikit
Teorinya, ASI itu akan semakin banyak mengalir apabila payudara semakin sering dihisap oleh bayi. Karena itu, kiat sederhana yang perlu diikuti demi berhasilnya ASI eksklusif adalah: Sodorkan payudara setiap kali bayi menangis.
Minggu-minggu pertama melahirkan, saya menetapkan prosedur standar sebagai berikut, untuk menanggapi jika bayi menangis (untungnya selalu berhasil di langkah pertama dan kedua)[3]
1.   Sodorkan payudara
2.   Jika tidak berhasil menenangkan bayi, periksa popoknya
3.   Jika tidak berhasil juga, gendong bayi sambil tepuk tepuk atau tengkurapkan bayi sambil tepuk tepuk
4.   Jika tidak berhasil juga, kembali ke langkah 1 

Ingat, produksi ASI akan banyak jika payudara banyak dihisap.
Karena itu, waktu itu saya berprinsip “Kalau bayi menangis, sodorkanlah payudara“, dan mengikuti prosedur tiga langkah di atas. Jika prinsip dasar di atas dilakukan, kekuatiran anda boleh berkurang. Tidak perlu stress takut kurang susu jika anda membiarkan bayi anda menghisap payudara sesering yang dia mau. 


~Stay Cool and Lovely ~