Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah tangga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Februari 2011

~ Jangan Lagi Ketidaksempurnaan Dijadikan "Kambing Hitam" ~

Sebuah konflik tidak seharusnya disikapi dengan emosi. Ibarat batu yang dilempar pada batu, maka keduanya akan pecah dan sia sia. Demikian pula dalam konflik rumah tangga yang kadang kala muncul baik karena hal sepele atau masalah yang sangat serius.
Kondisi hati, fisik dan pikiran yang kadang labil seringkali membawa kita pada sebuah keadaan yang malah membuat makin rumit situasi. Emosi yang sedang tinggi, malah memicu salah pihak yang lain melakukan hal yang serupa. Sampai sampai ada yang menggambarkan, ibarat perang, harus ada pemenang dalam situasi tersebut, atau dengan kata lain salah satu pihak harus merelakan diri untuk kalah dan atau mengalah.

Masyaallah, menang atau kalah bukan inti dari babak akhir sebuah konflik atau perbedaan pendapat yang ada. Namun hal tersebut justru malah semakin menggambarkan kelemahan pengontrolan diri dari kedua belah pihak tersebut.

Memang ada kalanya khilaf ikut menyertai dalam perjalanan kehidupan manusia yang tidak sempurna. Namun apakah selamanya ketidaksempurnaan itu dijadikan kambing hitam atas semua kesalahan kita, sampai kita melupakan sama sekali cara menyayangi pasangan kita, bahkan di saat kita marah? Bukankah rumah tangga memang adalah tentang proses belajar dan saling mempelajari? Kemarahan adalah sama sekali bukan cara yang elegan untuk sebuah perbaikan hubungan, malah justru akan memperparah keretakan dalam rumah tangga.

Pasangan kita tak ubahnya buku yang diberikan untuk kita. Harus kita akui memang butuh waktu, tenaga dan kesabaran yang lebih untuk mempelajarinya lembar demi lembar. Terkadang di dalam buku tersebut mengandung hal-hal yang sulit kita pahami, namun bukankah buku adalah selalu terkait dengan ilmu, dan ilmu adalah hal yang pastinya mencerahkan jalan kehidupan kita?

Bersatunya suami dan istri adalah sudah pasti karena skenario Allah yang maha indah. Dan pasti pula terkandung maksud dan tujuan yang tak kalah indah untuk masa depan kita. Suami tanpa istri hanyalah setengah dan istri tanpa suami adalah setengahnya lagi. Dengan kata lain keduanya saling melengkapi.

Lalu jika kita meyakini semua ini, masihkah kemarahan, sikap kasar  yang sama sekali jauh dari kelembutan dan kasih sayang menjadi pilihan "tercerdas" kita untuk menghakimi pasangan kita ? bukankah dia tengah dalam posisi tak menyadari kesalahannya, dan hal itu juga mungkin suatu hari terjadi kepada kita? lalu maukah kita juga rela dihakimi dengan kemarahan tanpa ada embel2 "kata kata pembukaan" yang halus yang dilakukan untuk sekedar menjadi peringatan awal?

Mari jawaban dari semua pertanyaan itu kita kembalikan pada diri kita masing masing dan kita renungkan untuk mengukur seberapa tinggi kualitas kita dalam  sebuah hubungan.

Yakinlah, masih banyak jalan keluar yang lebih cantik dan pas untuk dilakukan dari pada hanya sekedar mengumbar emosi dan malah justru akan semakin memperjelas kebodohan kita dalam mendengar dan memahami satu sama lain. Dan hanya pribadi yang mau belajar yang dengan pasti dapat mengetahui tentang keindahan sebuah damai.
(syahidah/ voa-islam.com)

~Belajar Ilmu Lidah, Bagian Kecil dengan Pengaruh Besar~

Lidah, benda sederhana yang merupakan bagian tubuh kita sebagai karunia Allah ini, ternyata menyimpan banyak kegunaan dan resiko. Dia bisa membawa kebaikan dan atau malah sebaliknya menjerumuskan seseorang, bahkan sejauh jauhnya. Susunan alfabet yang sederhana dari sebuah kata yang dihasilkan lidah kita, memiliki daya pengaruh yang bisa berdampak negatif jika tidak dirangkai secara bijaksana. 

Seni mendidik lidah, benar benar memberikan efek luar biasa, salah satunya dalam kehidupan berumah tangga. Keharmonisan dan kesejukan suasana di dalamnya ada kaitannya erat dengan hal yang bernama lidah. Kemampuan pasangan menghadirkan kata kata yang menyejukkan dan meneduhkan akan tentu saja membawa kedamaian di dalam rumah. Dan sebaliknya, kealpaan kita menjaga dan menahan lisan dari mengeluarkan kata kata yang menyakitkan akan membawa dampak yang sangat tidak ringan. Mungkin di awalnya tidaklah terlalu terasa, namun seiring dengan waktu, jika kebiasaan buruk ini tetap di "jaga" maka bom waktu itu akan setiap saat meledak dan menghancurkan rumah tangga.

Siapa suami yang tidak ingin disuguhi kata kata yang halus dan penuh pengertian dari para istri istri mereka. Walaupun tidak ada makanan yang terhidang, walaupun kehidupan tidak selalulah berjalan sesuai dengan impian dan keinginan, namun kemampuan istri mendidik lidah mereka dengan baik, akan membawa semangat bagi para suami untuk lebih memberikan yang terbaik mereka yang mampu demi keluarga.

Pun demikian dengan para istri. siapapun dan dimanapun istri, tidak akan pernah berharap seorang suami yang kasar yang selalu menyakiti dan meremehkan mereka melalui kata katanya.

Kata kata yang baik yang terucap dari mulut kita dan kita ucapkan berulang-ulang, akan menyatu dengan diri kita. Apabila kata sudah menyatu dengan pikiran dan hati, maka hal itu akan memunculkan keajaiban-keajaiban. Tapi semua ini hanya berlaku bagi yang mengucapkan dengan sepenuh hati demi membahagiakan dan mendamaikan pasangan kita.

Poros dari semua kejadian ini tentu fatwa dari hati manusia tersebut, Karena ibarat teko, dia hanya akan menguarkan isi asli di dalamnya. Oleh karena itu, menjaga hati, tidaklah kalah penting dari semua itu. Hal ini dapat dilakukan salah satunya dengan memelihara diri. Jika hati kita akan terbiasa untuk memelihara diri dari godaan-godaan untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat, maka sebenarnya kata-kata yang kita ungkapkan
memiliki makna yang akan masuk ke dalam pikiran kita. Pikiran akan memberikan gambaran atas kata yang kita ucapkan. 

Ketika kita mengucapkan kalimat yang baik dan penuh kasih, maka lambat laun kita pun akan tertuntun untuk menjadi pribadi yang mengasihi. Dan jika hal itu selalu kita jaga untuk terus menerus kita lakukan, niscaya kebahagiaan dan kedamaian akan selalu menghiasi rumah tangga kita. (Syahidah/ voa-islam.com)