Tampilkan postingan dengan label Orang Tua dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Orang Tua dan Anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

MENGANTAR ANAK BAIK DENGAN KEKUATAN DOA


MENGANTAR ANAK BAIK DENGAN KEKUATAN DOA

by Momme Nadia Aufaa on Sunday, February 27, 2011 at 8:25pm
 Doa orang tua untuk anaknya yang terdapat dalam Al Quran dan Hadits:

1. Wahai Rabb kami, anugerahkanlah bagi kami pasangan-pasangan hidup dan keturunan sebagai penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa (Al-Furqan 25:74)

2. Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau karuniakan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk melakukan amal shalih yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan kepadaku dengan kebaikan anak keturunanku (Al-Ahqaf 46:15)

3. Doa Nabi Zakaria ketika berdoa, Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan sebahagain keluarga Ya'kub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai. ( Maryam 19:4-6)

4. Wahai Rabbku, jadikanlah aku dan keturunanku sebagai orang-orang yang senantiasa mendirikan shalat. Wahai Rabbku, kabulkanlah doaku. (Ibrahim 14:40)

5. Usamah Bin Zaid ra menceritakan beliau Muhammad Shallallahu 'alahai wa sallam pernah mmelukku bersama Al-Hasan lalu mendokan, " Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai mereka berdua, maka cintailah mereka". (HR. Al-Bukhari no. 3735)

6. Dari Anas ra, ia berkata, " Pada suatu ketika ibuku, Ummu Anas datang (dengan saya) menemui Rasulillhs saw. Waktu itu saya mengenakan sarung dan baju dari bekas kerudung ibuku. Lalu ia berkata, "Wahai Rasulullah, ini adalah Unais, anakku, saya bawa ia datang kepadamu agar dia menjadi pembantumu. Karena itu, doakanlah dia". Lalu Nabi berdoa, " Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya (Anas)'.

Menjadikan Pembantu Rasulullah
Saat ini sudah tidak mungkin menjadikan anak kita sebagai pembantu Rasulullah saw, tetapi bisa difahami sebagai seorang pembantu, kehadiran Anas dalam kehidupan Rasulullah saw mengantarkannya untuk menjadi orang yang merasakan (melihat, mendengar) sentuhan langsung pendidikan Rasulullah saw. Ini berarti semakin besar keinginan kita untuk menjadikan anak sebagao penerus risalah dakwah Rasulullah saw, semakin banyak pula kondisi yang kita ciptakan agar anak kita tumbuh dalam lingkungan yang kondusif untuk keIslamannya.

Minta Di Doakan
Baynyak contoh yang memberitakan seorang ayah mendoakan kebaikan anaknya, dan ada pula yang minta didoakan Rasulullah saw.

Semua contoh diatas sudah lebih dari cukup untuk menjadi pembelajaran bagi setiap Muslim agar berdoa untuk kebaikan anak-anaknya. Cara ini menarik kita gunakan dalam rangka melahirkan anak yang shalih/shalihah, kerana contonhya sudah ada dan perintah untuk berdoa jelas, " Dan Tuhanmu berfirman, " Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu". Sesungguhnya orang-orang yang menyombonkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina" (Al-Mukmin 40:60)

Permasalahan yang sering dihadapi adalah kecenderungan untuk memperoleh sesuatu dengan segera, sehingga apa saja yang diminta juga ingin terwujud segera. Padahal salah satu penyebab doa tidak terijabah adalah ketergesa-gesaan untuk memperoleh apa yang diminta. Dari Abu Hurairah ra-dari Muhammmad saw beliau bersabda: " Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan silaturrahmi, serta selama dia tidak tergesa-gesa". Seorang sahabat bertanya , "Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa?" Beliau menjawab: " Yakni di mengatakan, " Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan". Setelah itu, dia merasa putus asa dan berhenti berdoa". (HR. Al-Bukhari no. 6340) dan Muslim no 2735)

Kita dapat meminta kepada Allah, agar anak kita mendapatkan kebahagiaan di akhirat (Allah swt, mendirikan shalat, dll) diinginkan terwujud pada anak kita, dan selanjutnya upayakanlah agar apa yang didoakan itumendapatkan kebahagiaan di dunia (banyak harta dan anak). Berdoalah terhadap apa yang yang diinginkan terwujud pada anak kita, dan selanjutnya upayakanlah agar apa yang didoakan itu terwujud.

Sumber: Ust. Ahmad Hariyadi, M. Si (Konsultan Pendidikan)
Di ketik ulang oleh: Momme Nadia Aufaa

~Stay Cool and Lovely ~

Minggu, 06 Februari 2011

Untuk Perempuan Super Sibuk: Sukses Di Kantor, Sukses di Rumah

Seorang ibu rumah tangga kadang kesulitan untuk membagi waktu untuk mengurusi semua urusan rumah dan keluarganya. Apalagi perempuan yang memilih berkarir, kesulitan mereka untuk menyeimbangkan peranannya sebagai pekerja di kantor dengan perannya sebagai ibu rumah tangga, jadi berlipat ganda. 

Tapi itulah tantangan bagi perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga. Mereka harus bisa membagi waktunya antara bekerja di luar rumah dengan keluarganya di rumah.
Kesulitan membagi waktu ini menjadi kerap menjadi keluhan utama para perempuan karir. Tapi sebenarnya, jika mereka jeli, kesulitan menyeimbangkan peran itu terkadang datang dari mereka sendiri yang tanpa disadari kadang telah banyak membuang waktu-waktu berharga mereka.

Untuk menghindari hal tersebut, Anisa Abeytia, seorang perempuan karir, penulis lepas dan spesialis di bidang kesehatan intregratif asal Uni Emirat Arab ini memberikan tips-tips bagi para perempuan karir maupun ibu rumah tangga agar lebih efektif menggunakan waktunya sehingga bisa menyeimbangkan semua kewajiban yang harus dipenuhinya.

Tips yang diberikan Abeytia berdasarkan pengalamannya sebagai ibu yang bekerja di luar rumah, mengurus empat anak dan menerapkan program homeschooling buat anak-anaknya serta masih harus bolak-balik ke kampus untuk menyelesaikan studi masternya. Tak terbayangkan betapa sibuknya ia harus membagi waktu agar tidak ada yang terbengkalai. 

Nah, inilah kiat-kiat yang diberikannya untuk para ibu yang juga super sibuk;
  1. Membuat perencanaan. Sebaiknya ketika akan melakukan sesuatu, kita membuat perencanaan yang matang. Meski kadang hasilnya masih meleset dari yang kita harapkan. Tapi dengan membuat perencanaan, setidaknya kita tahu apa yang kita inginkan, bagaimanan mencapainya dan apa yang penting buat kita.
  2. Tidak melibatkan anak-anak dalam banyak kegiatan di luar rumah. Banyak orang yang menjejalkan anak-anaknya dengan segudang kegiatan yang akhirnya banyak menyita waktu sang ibu hanya untuk mengatarkan anak-anaknya dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lainnya. Orang tua boleh-boleh saja memberikan banyak kesempatan pada anak-anaknya untuk mempelajari apa saja. Tapi tidak perlu berlebihan karena banyak kegiatan akan membuat ibu dan anak sama-sama lelah, anak juga jadi belajar tidak konsisten dan tidak benar-benar menguasai satu bidang karena terlalu banyak yang dilakukannya.
  3. Jangan terlalu banyak perabot di rumah. Benda-benda yang ada di rumah kita harus selalu dalam keadaan rapih dan bersih dan itu artinya, semakin banyak perabotan di rumah, makin banyak pula waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan dan merapikannya. Akan lebih baik jika perabot rumah tangga tidak terlalu banyak dan dipilih yang simpel saja, sehingga tidak buang-buang waktu ketika mengurusnya.
  4. Menata rumah dengan benar . Kita kadang tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya sehingga ketika membutuhkan, butuh waktu lama untuk mencarinya. Disinilah pentingnya pengorganisasian, menempatkan benda-benda dalam rumah dengan benar dan seluruh anggota keluarga tahu kemana mereka harus mencari benda-benda yang dibutuhkannya termasuk masalah penggunaan telepon, internet dan televisi bisa menyebabkan banyak masalah jika penggunaannya tidak bijaksana.
  5. Menetapkan tujuan yang realistis. Menentukan tujuan yang realistis memang bukan pekerjaan yang gampang. Tapi setiap tujuan harus sangat spesifik dan memberikan bimbingan pada kita tentang bagaimana, kapan dan berapa banyak atas kegiatan-kegiatan yang akan kita lakukan.
  6. Menetapkan prioritas. Agar waktu tidak terbuang percuma, ada baiknya menentukan prioriotas apa yang penting buat kita dan mengapa sesuatu itu penting. Usahakan semua perencanaan per hari, per minggu atau perbulan dibuat dalam bentuk tertulis. Dengan mencatat semua rencana, tujuan, prioritas, waktu yang digunakan lebih efesien.
  7. Pentingnya waktu untuk menyendiri. Setiap orang butuh saat-saat dimana ia bisa relax dan menyegarkan kembali pikirannya. Misalnya, membaca buku, mandi, berbagi makanan dengan teman-teman atau melakukan aktivitas yang sangat kita sukai. Jika tubuh dan pikiran tidak diberi kesempatan untuk relax, bisa menimbulkan resiko kelelahan dan sakit.


Allah Swt menyukai tindakan kecil yang kita lakukan tapi konsisten. Daripada banyak hal yang dikerjakan tapi tidak konsisten mengerjakannya secara rutin. Konsistensi membuat sebuah kegiatan menjadi lebih mudah dan efektif serta bisa menyentuh semua aspek kehidupan. Kita tidak perlu membuang-buang waktu, uang dan tenaga hanya untuk meraih tujuan-tujua kita jika konsisten dengan tindakan kita.

Kesimpulannya, kunci keberhasilan seorang perempuan berkarir atau ibu rumah tangga adalah mampu menyeimbangkan antara pekerjaannya dengan waktu untuk keluarganya. Untuk itu yang terpenting adalah selalu membuat perencanaan, tahu prioritas apa yang akan dilakukan dan apa tujuan yang akan dicapai. Jika dibiasakan, ketiga unsur tadi akan menjadi sebuah sistem Anda dalam bekerja. Sehingga tidak perlu dipusingkan lagi dengan keluhan antara karir dan rumah tangga. by eramuslim.

Pasted from <http://tips-dunia-anak.blogspot.com/2010/02/untuk-perempuan-super-sibuk-sukses-di.html>

Sabtu, 05 Februari 2011

Bunda Ayun Aku dalam Buaianmu!

Bila kita perhatikan, pola asuh yang berbeda sangat terlihat antara pola asuh budaya Barat serta Timur. Kebanyakan pola asuh yang biasa diterapkan oleh masyarakat di Barat, tampak menerapkan kemandirian sejak anak masih kecil. Anak dibiarkan dalam kamar terpisah dari dini ( bahkan sejak masih bayi ), dibiarkan untuk tertidur dalam kamarnya tersebut.

Bandingkan dengan budaya di daerah Timur, bayi ditidurkan dengan diayun, di-ais ( bahasa Sunda ), di-emban ( bahasa Jawa ), tidur dalam satu kamar, bahkan satu tempat tidur dengan ayah bundanya.

Sepintas nampak perbedaan yang jelas terhadap pola asuh tadi. Namun adakah pengaruh yang signifikan terhadap pola tumbuh kembang anak selanjutnya?

Ternyata pola tadi sempat ditanyakan dalam bukunya Dr.Ratna Megawangi, Character Parents space, dikatakan bagaimana pengaruhnya bila anak dininabobokan oleh
ibunya sebelum tidur.

Ternyata jawabanya sungguh mengejutkan. Pola di Timur yang biasa kita lakukan ternyata perlu kita syukuri. Dikatakan bila anak lebih banyak mendapatkan dekapan
dan sentuhan fisik, ada semacam kerinduan terhadap orangtuanya. Dan hal ini merupakan dasar bagi hubungan harmonis di dalam kelurga. 

Di Barat, anak yang diberi kamar sendiri sejak bayi, dalam perkembangannya anak
bukannya mandiri , malah cenderung untuk individualis. Hal ini disebabkan karena sebenarnya mereka belum siap dipisahkan dan masih merindukan ketergantungan kepada orangtua.
Hal ini didukung juga dengan penelitian yang memaparkan bahwa hal tadi ( meninabobokan dll ) dapat menimbulkan efek psikologis kedekatan hubungan antara
ibu dan anak lebih erat. Anak merasa aman, mendapatkan kasih sayang, dan sentuhan membuat fondasi perkembangan spiritual dan emosi anak berkembang. 

Efek ini juga sama jika kita mendongengkan sebuah cerita.
Pengaruh mengayun ini ternyata sangat luar biasa.
Bukankah anak mudah tertidur saat kita ayun?
Meng’ayun’ sebenarnya ‘fitrahnya’ bayi. Karena ia terbiasa di’ayun’dalam cairan dalam rahim ibu saat ia masih dalam kandungan. 

Lihat saja saat ia menangis,
pola mengayun ini sering membuat tenang (tentu bukan menangis karena lapar atau basah ya)

Tanpa berupaya mengklaim bahwa salah satu pola asuh dengan menggendong adalah yang terbaik. Namun beberapa fakta dibawah ini mungkin bisa mendorong kita, bunda,ayah untuk mau mengayun si kecil dalam buaian kita.

Berdasarkan pengalaman memiliki 2 balita yang punya kebiasaan digendong, membuat saya merasa “perlu” berbagi dengan orangtua yang memiliki kebiasaan yang sama. Bagi saya mengendong itu memerlukan energi yang lebih. Apalagi bagi orangtua yang tentunya sedang dalam keadaan penat luarbiasa. Energi lebih disini bagi orangtua karena selain fisik yang dituntut lebih juga secara mental serta emosional juga harus punya energi lebih. Anak seringkali mengetahui loh saat kita tidak sepenuh hati dalam menggendong.

Menggendong bagi saya juga memiliki dimensi yang lumayan lengkap. Selain ayunan yang meninabobokan, dekapan kita membuatnya super nyaman, karena suhu tubuh kita dan anak akan saling menyesuaikan, ini diaplikasikan salah satunya dalam skin contact pada proses inisiasi menyusu dini, juga kangaroo care. Teknik kanguru ini berdasarkan penelitian di Neonatal Network 1998, terbukti dapat meningkatkan keintiman dan kasihsayang antara bayi dan orangtuanya. Teknik ini telah dikenal luas di rumah sakit di Amerika sebagai salah satu mengurangi stress pada bayi prematur. Bahkan direkomendasikan bila si kecil mengalami masalah tidur, enggan menyusui atau terlihat rewel. Bisa kita lihat di Barat sendiri pola asuh kembali ke ‘basic’, mungkin menyadari bahwa kedekatan emosional dapat optimal terbentuk dari pola-pola ini.

Selain itu saat menggendong kita bisa mengusap, menepuk-nepuk, bersenandung, bershalawat, berdzikir, keep eyes contact, tersenyum, dll. Apapun bisa dilakukan lebih banyak. Tentunya kita pun sebagai orangtua pun dapat banyak pelajaran. Ya banyak belajar untuk bersabar misalnya. Bagi saya ini penting karena pengendalian emosi kita bisa dilatih sejak anak kita masih kecil. Ntar kalo dia sudah beranjak besar, kita tentunya bisa lebih super sabar, karena telah terlatih untuk itu. Dan saat anak bisa terlelap atau hanya mau digendong oleh kita karena nyamannya, betapaaa membahagiakan. Selain itu kita dapat melatih fisik kita saat menggendong. Coba kombinasikan dengan gerakan-gerakan ringan. Jadinya saat menggendong kita dapat pula berolahraga.


Oh ya kembali ke penelitian tentang gendongan tadi, bahkan dalam salah satu artikel yang saya baca, posisi bayi ketika kita menggendong ternyata juga sangat berpengaruh. Penelitian menunjukan bahwa menggendong bayi dengan posisi kepala di sebelah kiri, membantu menenangkan bayi. Bayi memiliki kecendrungan untuk lebih nyaman saat kita menggendongnya di sebelah kiri karena dia bisa mendengar detak jantung kita yang berada di dada kiri. Inilah yang membuatnya nyaman dan damai. Jika kita menggendongnya di sebelah kanan , hal ini akan membangkitkan semangat dan membuatnya terjaga.


Mengayun, menggendong akan membuat bayi memahami bahwa kita adalah orang yang selalu ada untuknya. Walau disela-sela waktu kita. Saya sebenarnya pernah juga mengatakan pada ayah saya, yang pakar banget dalam hal gendong mengendong ini, katanya nih,saat saya pernah berkomentar karena ada yang memberitau saya bahwa mengendong nanti akan membuat anak jadi kebiasaan adalah “jangan deny saat kamu cape, bagaimanapun anak akan sangat nyaman dengan pola ini”. Tentu kemudian saya tidak menelan mentah-mentah ucapan tadi. Disertai mencari-cari hal ‘ilmiahnya’ hingga saya meyakinkan diri bahwa menggendong yang ayah saya rekomendasikan itu, memang salah satu pola asuh terbaik bagi anak-anak saya.Itu dibuktikan dengan anak pertama saya yang tumbuh dengan pribadi yang hangat, yang kini sudah punya dunianya sendiri. Sedikit catatan mungkin 2 tahun pertama saja anak senang dengan pola ini, selanjutnya ia akan tertidur sendiri dengan aktivitasnya yang makin kompleks.

Semoga tulisan ini dapat menjadi semangat bagi bunda atau ayah, yang mungkin kelelahan saat mengayun anaknya atau yang beranggapan bahwa mengayun anak
membuat jadi kebiasaan yang salah atau bahkan membuat anak tergantung. 

Percayalah ini adalah investasi yang berharga bagi masa depannya kelak. Karena tentu kita berharap, anak-anak kita bukan saja tumbuh sehat secara jasmaninya saja, tapi juga sehat mentalnya juga sehat secara emosionalnya. Amiin


sumber :
dr.Kharisma Perdani K
*Public Relation WISE ( Women’s Initiative for Society Empowerment ).
Klinik, Konsultasi dan Pelatihan, 
Jl.Tubagus Ismail No.40A Bandung
*Redaktur Parenting Islami
http://parentingislami.wordpress.com

Jumat, 04 Februari 2011

Tips peran ayah dalam pertumbuhan anak.

Hasil riset dan para psikologi banyak yang menyatakan bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak, ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri. Interaksi yang baik antara anak dan ayah ini, dikatakan sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.
Photobucket - Video and Image Hosting
Bagaimana seorang ayah yang sibuk bekerja di luar tetap bisa mempererat dan menjalin ikatan emosional ini?
Banyak kendala yang dihadapi seorang ayah untuk meluangkan waktunya merawat anak karena kesibukan di luar.

Di bawah ini adalah tips-tips bagi Seorang Ayah :
1. Persiapkan diri Anda sedini mungkin sejak istri Anda hamilSeorang suami sudah terlibat dalam pembuahan seorang anak, yang menjadikan istrinya mengandung. Masa kehamilan selama 9 bulan ini dapat Anda gunakan untuk mempersiapkan diri Anda sebagai seorang ayah. Berperan aktif lah Anda sebagai seorang suami sekaligus calon ayah dengan membantu kehamilan istri.
Mengikuti persiapan persalinan berupa senam, membaca buku bersama mengenai kehamilan, cara merawat bayi atau berbelanja bersama untuk menyambut kelahiran sang bayi. Bila memungkinkan temanilah istri Anda dalam persalinan. Melihat langsung perjuangan istri Anda, dan detik-detik terdengarnya tangisan bayi yang lahir ke dunia ini, akan menambahkan rasa sayang dan kasih Anda baik kepada istri maupun anak Anda.

2. Ikut aktif merawat bayiSedari awal menjelang kelahiran, cobalah ikut aktif merawat bayi Anda. Salah seorang peneliti menemukan bahwa para ayah yang mulai mengganti popok, memandikan, dan mengasuh bayi mereka sejak dini, akan besar kemungkinan melakukan kegiatan semacam itu pada bulan-bulan selanjutnya.
Tips bagi ibu..., biarkanlah suami Anda ikut merawat dan mengasuh dengan gayanya sendiri, Anda bisa memberikan dukungan dan dorongan agar suami akan semakin perrcaya diri dalam merawat bayinya. Memberikan masukan dan membetulkan cara merawat akan menambah smooth.
Bagi keluarga yang mendapatkan pertolongan dari nenek atau saudara lainnya, usahakan lah jangan sampai menganggu porsi sang ayah dalam ikut aktif merawat bayi. Give him the space.

3. Bermain bersamaKetika bayi Anda makin beranjak usia, lewatkan waktu bersama untuk bermain, membaca buku atau melakukan aktivitas yang menyenangkan bagi bayi Anda yang mulai merangkak, mulai belajar berbicara atau berjalan. Ciptakanlah permainan-permainan yang menggairahkan, yang digemari seperti kuda-kudaan, pesawat terbang atau sembunyi sembunyian.
Sesuaikanlah dengan perkembangan usia anak Anda.
Membaca, mewarnai atau melakukan keterampilan menggunting, menempel secara bersama-sama.

4. Terlibat dalam kehidupan sosial anak AndaKetika anak Anda mulai beranjak usia sekolah, dia akan memulai kehidupan sosial yang baru. Usahakan terlibat dalam kehidupan sosial anak Anda, dengan mengenali misalnya nama teman-temannya, dengan siapa dia bergaul, aktivitas yang dia lakukan bersama temannya atau nama guru TK/SD nya.

5. Jadilah pendengar yang baikKesibukan kerja terkadang membuat Anda mengabaikan cerita-cerita anak Anda. Berikan keseimbangan antar kerja dan keluarga, atau usahakan jangan membawa pekerjaan ke rumah. Luangkan waktu 5 menit saja untuk mendengarkan celotehannya dan mengerti betul isi cerita itu.
Jangan hanya 'meng-iyakan' agar cerita anak itu lekas selesai atau mengatakan nanti ayah sedang sibuk.
Sebersit wajah kecewa akan nampak dan membuat anak akan semakin malas untuk bercerita pada anda. Akhirnya kebiasaan bercerita dan sharing dari anak akan menghilang. Jadi jangan Anda mengeluh bila anak Anda tidak terbuka suatu hari nanti, karena kebiasaan ini dimulai dari respon Anda sebagai pendengar yang baik atau tidak.
Dengan menjadi pendengar yang baik, disamping keterbukaan, Anda akan menjadikan anak Anda dapat mengekspresikan dan cakap dalam mengungkapkan sesuatu.

6. Komunikasi yang baikBila Anda dinas luar atau tinggal terpisah berjauhan dengan anak Anda, usahakan lah tetap menjalin komunikasi dengan baik, melalui telepon atau chatting internet. Tunjukkan perhatian Anda, rasa sayang Anda melalui telepon, sms atau melalui surat.

7. Percayai anak Anda dan berikan kebebasan
Jadilah seorang ayah yang memberikan kebebasan dan dapat mempercayai anak Anda. Kepercayaan Anda akan menjadikan dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mandiri. Janganlah mendikte dia untuk melakukan A. Tapi cobalah memberikan dia pilihan, misalnya Arif mau A atau mau B? Dan tetaplah membuka kemungkinan pilihan lain selama pilihan itu tidak bertentangan dengan hal prinsip.

8. Penuhilah sesuai kebutuhannya.Bertambah dewasa seorang anak, akan semakin bertambah kebutuhannya, semakin beragam dan variatif. Jangan Anda paksakan dan menganggap dia masih kecil sehingga memperlakukan sebagai seorang bayi.

~~~Selamat menikmati menjadi ayah yang baik, bukan sembarang ayah.~~~

sumber : 
http://tips-dunia-anak.blogspot.com/2006/12/tips-peran-ayah-dalam-pertumbuhan-anak.html

Lindungi Anak dari BAHAYA INTERNET

Seiring dengan kemajuan teknologi, penggunaan Internet semakin luas di kalangan masyarakat. Banyak keluarga telah menggunakan jasa langganan Internet, sehingga di dalam rumah, anggota keluarga dapat mengakses Internet dengan mudah. Begitu juga dengan kehadiran telepon seluler yang memungkinkan seseorang dapat mengakses Internet kapan saja dan dari mana saja. Internet dapat memberikan manfaat positif, tetapi juga dapat berdampak negatif. Seorang anak yang menggunakan Internet sering kali menjadi sasaran empuk dari orang-orang yang berniat jahat maupun pornografi. Apa yang dapat dilakukan orang-tua untuk melindungi anak mereka?


Bila digunakan dengan baik, teknologi Internet tentu berdampak positif. Seseorang dapat dengan mudah mencari informasi yang ingin diketahui. Dengan hanya mengetikkan kata pada mesin pencari (search engine), ada banyak situs web yang dirujuk tentang informasi tersebut. Adanya e-mail memungkinkan seseorang dapat mengirim sebuah surat untuk orang lain dengan cepat dan mudah.

Ruang obrol (chatting room) memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi dengan banyak orang yang saling berjauhan sekaligus. Atau yang sedang marak, hadirnya situs web jejaring sosial seperti Facebook atau Friendster yang memungkinkan seseorang untuk menemukan teman lama yang sudah lama tidak dijumpai.

Namun, hal positif dari Internet ternyata dapat berakibat buruk bila digunakan secara tidak bertanggung jawab. Banyak anak yang ketagihan atau kecanduan Internet sehingga mereka betah berlama-lama di depan komputer sehingga lupa akan kewajiban mereka yang lebih penting untuk makan, mandi bahkan enggan untuk belajar. Salah satu penyebab seorang anak begitu menyukai Internet karena mereka mendapatkan suatu pengalaman baru dan mereka bisa mendapatkan kenyamanan. Atau mereka mendapat sesuatu dari dunia maya ini yang tidak bisa didapatkan di dunia nyata.

Di dunia maya dia bisa menjadi orang lain yang diinginkan. Misalnya, seorang anak yang pemalu dapat dengan mudah berkenalan melalui chating atau e-mail. Dalam game online, mereka dapat membuat karakter mereka menjadi karakter yang cantik, kaya, atau hal lain yang mungkin berbeda dengan kehidupan nyata mereka.

Bahaya Pornografi Internet

Yang lebih memprihatinkan adalah bila seorang anak ketagihan pornografi di Internet. Dalam seminggu ada lebih dari 4000 situs porno dibuat! Benar-benar angka yang memprihatinkan. Ini tidak hanya melanda anak-anak, kerena banyak orang dewasa yang juga ketagihan pornografi di Internet karena dengan mudah dan tanpa malu, seseorang dapat mengakses dan melihat gambar-gambar porno bahkan melalui telepon genggam.
Awalnya, mungkin seorang anak tidak berniat untuk melihat pornografi dan akan memanfaatkan Internet untuk tujuan yang baik. Tetapi, situs porno ini dapat muncul secara tiba-tiba saat seorang anak mencari bahan informasi untuk tugas sekolahnya atau untuk keperluan lainnya. Seorang anak yang masih lugu belum dapat menilai baik atau buruknya suatu hal, maka seorang anak usia 8-12 tahun sering menjadi sasaran.
Pada usia ini, otak depan seorang anak belum berkembang dengan baik. Sedangkan otak depan adalah pusat untuk melakukan penilaian, perencanaan dan menjadi eksekutif yang akan memerintahkan tubuh untuk melakukan sesuatu. Pada otak belakang merupakan pendukung dari otak depan. Di sini juga dihasilkan dopamin, yaitu hormon yang menghasilkan perasaan nyaman, rileks atau fly pada seseorang.

Seorang anak yang kecanduan akan sulit menghentikan kebiasaannya sehingga dia akan melakukan hal tersebut berulang kali. Anak dapat merasa bersalah tetapi tidak berani mengutarakan perasaannya kepada orang-tuanya karena takut atau kesibukan ayah dan ibunya. Dalam keadaan cemas, otak berputar 2,5 kali lebih cepat dari putaran biasa pada saat normal. Akibat perputaran yang terlalu cepat ini, otak seorang anak dapat menciut secara fisik sehingga otak tidak berkembang dengan baik.

Suatu keadaan yang dapat merusak masa depan seorang anak. Selain itu, gambar-gambar cabul yang ada di situs web porno, biasanya akan melekat dan sulit untuk dihilangkan dalam pikiran anak dalam jangka waktu yang cukup lama.

Bahaya Pemangsa Seksual

Internet juga sering dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengelabui anak-anak. Ada sebanyak 750.000 pemangsa atau predator seksual setiap hari yang memanfaatkan ruang rumpi (chatting room) untuk berkenalan, kemudian mengajaknya untuk melakukan hubungan seks. Bila tidak berhati-hati, pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dapat mencuri identitas pribadi yang dapat digunakan untuk melakukan kejahatan.

Ciri Kecanduan Internet

Ciri-ciri seorang anak yang sudah kecanduan Internet umumnya adalah akan marah bila Anda membatasi untuk menggunakan Internet. Dia juga cenderung enggan berkomunikasi dengan orang lain dan bersifat tertutup atau hanya mau berteman dengan orang tertentu saja.

Cara Menghindari Bahaya Internet

Berbagai bahaya di Internet dan masalah kecanduan Internet bukan tidak dapat diatasi. Dengan mengetahui dampak negatif dari Internet, sebagai orang-tua Anda dapat melindungi buah hati Anda dengan melakukan hal-hal berikut:
  • Orang tua perlu memiliki pengetahuan tentang Internet

    Jangan mengganggap diri terlau tua atau terlalu bodoh untuk mempelajari Internet. Istilah lainnya, jangan gaptek (gagap teknologi). Seorang anak dapat saja dengan sengaja membiarkan atau membuat orang tua tidak memahami teknologi sehingga orang-tua berpikir tidak ada dampak negatif dari Internet.
  • Letakkan komputer di tempat yang mudah dilihat

    Kadang orang-tua merasa bangga dengan dapat meletakkan dalam kamar anak mereka sebuah komputer yang terhubung Internet. Hal ini sebenarnya akan membahayakan anak Anda karena mereka dapat leluasa mengakses situs-situs yang tidak baik tanpa diketahui orang-tua. Sebaliknya, dengan meletakkan di tempat terbuka, misalnya di ruang keluarga, Anda dapat memantau situs apa saja yang dibuka anak.
  • Bantu agar anak dapat membuat keputusan sendiri

    Karena Anda tidak dapat mengawasi anak Anda 24 jam, biasakan anak Anda untuk mengambil keputusan mulai dari hal-hal yang kecil. Misalnya, memutuskan untuk menggunakan pakaian yang mana atau tanyakan pendapat dan sudut pandang anak. Sehingga saat Anda tidak ada atau saat muncul situs porno mereka dapat mengambil tindakan yang tepat. Tanamkan pula rasa takut akan Tuhan, sehingga walau Anda tidak ada, tetapi dia tahu bahwa Tuhan memperhatikan dan melihat apa yang dilakukannya.
  • Batasi penggunaan Internet

    Jangan biarkan anak anak terlalu asyik di dunia maya. Tetapkan berapa lama Internet boleh digunakan dan situs apa saja yang boleh diakses. Jelaskan juga mengapa Anda melakukan hal ini dan bantu anak untuk memahami keputusan ini.
  • Jaga komunikasi yang baik dengan anak

    Luangkan waktu untuk bercanda dengan anak dan berkomunikasi dengan terbuka. Komunikasi yang baik dan keakraban dengan anak akan memudahkan Anda untuk menanamkan nilai-nilai moral. Anda dapat menjelaskan kepada anak Anda apa saja bahaya dari penggunaan Internet agar mereka tidak mudah terkecoh.
Semua orang-tua tentu menyayangi anak mereka dan berusaha memberikan yang terbaik. Tetapi pengaruh dari luar, salah satunya bahaya Internet dapat merusak kecerdasan dan nilai moral anak sehingga Anda perlu melindungi anak Anda dari bahaya penggunaan Internet seperti pornografi dan para pemangsa atau predator seksual.

sumber:
http://kumpulan.info/keluarga/anak/40-anak/165-lindungi-anak-dari-bahaya-internet.html

Kiat Pendidik Terbesar Luruskan Penyimpangan Akhlak Anak

Beberapa Contoh Cara Mendidik Anak yang Nakal
Syariat Islam yang agung mengajarkan kepada umatnya beberapa cara pendidikan bagi anak yang bisa ditempuh untuk meluruskan penyimpangan akhlaknya.

Di antara cara-cara tersebut adalah:
Pertama, teguran dan nasihat yang baik
Ini termasuk metode pendidikan yang sangat baik dan bermanfaat untuk meluruskan kesalahan anak. Metode ini sering dipraktikkan langsung oleh pendidik terbesar bagi umat ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang anak kecil yang ketika sedang makan menjulurkan tangannya ke berbagai sisi nampan makanan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.“[1]

Serta dalam hadits yang terkenal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anak paman beliau, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu.”[2]

Kedua, menggantung tongkat atau alat pemukul lainnya di dinding rumah
Ini bertujuan untuk mendidik anak-anak agar mereka takut melakukan hal-hal yang tercela.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan ini dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Gantungkanlah cambuk (alat pemukul) di tempat yang terlihat oleh penghuni rumah, karena itu merupakan pendidikan bagi mereka.”[3]

Bukanlah maksud hadits ini agar orangtua sering memukul anggota keluarganya, tapi maksudnya adalah sekadar membuat anggota keluarga takut terhadap ancaman tersebut, sehingga mereka meninggalkan perbuatan buruk dan tercela.[4]

Imam Ibnul Anbari berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memaksudkan dengan perintah untuk menggantungkan cambuk (alat pemukul) untuk memukul, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan hal itu kepada seorang pun. Akan tetapi, yang beliau maksud adalah agar hal itu menjadi pendidikan bagi mereka.”[5]

Masih banyak cara pendidikan bagi anak yang dicontohkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu[6] menyebutkan beberapa di antaranya, seperti: menampakkan muka masam untuk menunjukkan ketidaksukaan, mencela atau menegur dengan suara keras, berpaling atau tidak menegur dalam jangka waktu tertentu, memberi hukuman ringan yang tidak melanggar syariat, dan lain-lain.

Bolehkah Memukul Anak yang Nakal untuk Mendidiknya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perintahkanlah kepada anak-anakmu untuk (melaksanakan) shalat (lima waktu) sewaktu mereka berumur tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat (lima waktu) jika mereka (telah) berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.“[7]

Hadits ini menunjukkan bolehnya memukul anak untuk mendidik mereka jika mereka melakukan perbuatan yang melanggar syariat, jika anak tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya bisa menerima pukulan dan mengambil pelajaran darinya –dan ini biasanya di usia sepuluh tahun. Dengan syarat, pukulan tersebut tidak terlalu keras dan tidak pada wajah.[8]

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ketika ditanya, “Bolehkah menghukum anak yang melakukan kesalahan dengan memukulnya atau meletakkan sesuatu yang pahit atau pedis di mulutnya, seperti cabai/ lombok?”, beliau menjawab, “Adapun mendidik (menghukum) anak dengan memukulnya, maka ini diperbolehkan (dalam agama Islam) jika anak tersebut telah mencapai usia yang memungkinkannya untuk mengambil pelajaran dari pukulan tersebut, dan ini biasanya di usia sepuluh tahun.

Adapun memberikan sesuatu yang pedis (di mulutnya) maka ini tidak boleh, karena ini bisa jadi mempengaruhinya (mencelakakannya)…. Berbeda dengan pukulan yang dilakukan pada badan maka ini tidak mengapa (dilakukan) jika anak tersebut bisa mengambil pelajaran darinya, dan (tentu saja) pukulan tersebut tidak terlalu keras.

Untuk anak yang berusia kurang dari sepuluh tahun, hendaknya dilihat (kondisinya), karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya membolehkan untuk memukul anak (berusia) sepuluh tahun karena meninggalkan shalat. Maka, yang berumur kurang dari sepuluh tahun hendaknya dilihat (kondisinya). Terkadang, seorang anak kecil yang belum mencapai usia sepuluh tahun memiliki pemahaman (yang baik), kecerdasan dan tubuh yang besar (kuat) sehingga bisa menerima pukulan, celaan, dan pelajaran darinya (maka anak seperti ini boleh dipukul), dan terkadang ada anak kecil yang tidak seperti itu (maka anak seperti ini tidak boleh dipukul).”[9]

Cara-Cara Menghukum Anak yang Tidak Dibenarkan Dalam Islam[10]
Di antara cara tersebut adalah:
1. Memukul wajah
Ini dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau, yang artinya, “Jika salah seorang dari kalian memukul, maka hendaknya dia menjauhi (memukul) wajah.”[11]

2. Memukul yang terlalu keras sehingga berbekas
Ini juga dilarang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih.[12]

3. Memukul dalam keadaan sangat marah
Ini juga dilarang karena dikhawatirkan lepas kontrol sehingga memukul secara berlebihan.
Dari Abu Mas’ud al-Badri, dia berkata, “(Suatu hari) aku memukul budakku (yang masih kecil) dengan cemeti, maka aku mendengar suara (teguran) dari belakangku, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Akan tetapi, aku tidak mengenali suara tersebut karena kemarahan (yang sangat). Ketika pemilik suara itu mendekat dariku, maka ternyata dia adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau yang berkata, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud!’ Maka aku pun melempar cemeti dari tanganku, kemudian beliau bersabda, ‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud! Sesungguhnya Allah lebih mampu untuk (menyiksa) kamu daripada kamu terhadap budak ini,’ maka aku pun berkata, ‘Aku tidak akan memukul budak selamanya setelah (hari) ini.‘”[13]

4. Bersikap terlalu keras dan kasar
Sikap ini jelas bertentangan dengan sifat lemah lembut yang merupakan sebab datangnya kebaikan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang terhalang dari (sifat) lemah lembut, maka (sungguh) dia akan terhalang dari (mendapat) kebaikan.”[14]

5. Menampakkan kemarahan yang sangat
Ini juga dilarang karena bertentangan dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bukanlah orang yang kuat itu (diukur) dengan (kekuatan) bergulat (berkelahi),  tetapi orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.“[15]

Penutup
Demikianlah bimbingan yang mulia dalam syariat Islam tentang cara mengatasi penyimpangan akhlak pada anak, dan tentu saja taufik untuk mencapai keberhasilan dalam amalan mulia ini ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, banyak berdoa dan memohon kepada-Nya merupakan faktor penentu yang paling utama dalam hal ini.

Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar dia senantiasa menganugerahkan kepada kita taufik-Nya untuk memahami dan mengamalkan petunjuk-Nya dalam mendidik dan membina keluarga kita, untuk kebaikan hidup kita semua di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 9 Dzulhijjah 1431 H,
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim, M.A
(muslim.or.id)

[1] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 5061, dan Muslim no. 2022.
[2] Hadits riwayat At-Tirmidzi no. 2516, Ahmad: 1/293), dan lain-lain; dinyatakan shahih oleh Imam At-Tirmidzi dan Syekh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ish Shagir, no. 7957.
[3] Hadits riwayat Abdur Razzaq dalam Al-Mushannaf: 9/477 dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 10671; dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami dan Al-Albani dalam Ash-Shahihah, no. 1447.
[4] Lihat kitab Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat, hlm. 97.
[5] Dinukil oleh Imam Al-Munawi dalam kitab Faidhul Qadir: 4/325.
[6] Dalam kitab beliau Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat, hlm. 95–97.
[7] Hadits riwayat Abu Daud, no. 495; dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albani.
[8] Lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi: 2/370.
[9] Kitab Majmu’atul As`ilah Tahummul Usratal Muslimah, hlm. 149–150.
[10] Lihat kitab Nida`un ilal Murabbiyyina wal Murabbiyyat, hlm. 89–91.
[11] Hadits riwayat Abu Daud, no. 4493; dinyatakan shahih oleh Syekh Al-Albani.
[12] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1218.
[13] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1659.
[14] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 2529.
[15] Hadits shahih riwayat Al-Bukhari no. 5763, dan Muslim no. 2609.

Fenomena Kenakalan Anak, Perkara Besar Memusingkan

Mendidik anak merupakan perkara yang mulia tapi gampang-gampang susah dilakukan, karena di satu sisi, setiap orang tua tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan akhlak dan tingkah laku terpuji, tapi di sisi lain, mayoritas orang tua terlalu dikuasai rasa tidak tega untuk tidak menuruti semua keinginan sang anak, sampai pun dalam hal-hal yang akan merusak pembinaan akhlaknya. 

Sebagai orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kita meyakini bahwa sebaik-baik nasihat untuk kebaikan hidup kita dan keluarga adalah petunjuk yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al-Qur-an dan sabda-sabda nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ. قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Rabb-mu (Allah Subhanahu wa Ta’ala), penyembuh bagi penyakit-penyakit dalam dada (hati manusia) dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari perhiasan duniawi yang dikumpulkan oleh manusia.’” (QS. Yunus: 57-58).

Dalam hal yang berhubungan dengan pendidikan anak, secara khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang yang beriman akan besarnya fitnah yang ditimbulkan karena kecintaan yang melampaui batas terhadap mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (QS. at-Taghabun: 14).

Makna “menjadi musuh bagimu” dalam firman-Nya adalah “melalaikan kamu dari melakukan amal shalih dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[1]
Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya….”[2]

Fenomena Kenakalan Anak
Fenomena ini merupakan perkara besar yang cukup memusingkan dan menjadi beban pikiran para orangtua dan pendidik, karena fenomena ini cukup merata dan dikeluhkan oleh mayoritas masyarakat, tidak terkecuali kaum muslimin.

Padahal, syariat Islam yang sempurna telah mengajarkan segala sesuatu kepada umat Islam, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya, apalagi masalah besar dan penting seperti pendidikan anak. Sahabat yang mulia, Salman Al-Farisi radhiallahu ‘anhu pernah ditanya oleh seorang musyrik, “Sungguhkah Nabi kalian (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah mengajarkan kepada kalian segala sesuatu sampai (masalah) adab buang air besar?” Salman menjawab, “Benar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menghadap ke kiblat ketika buang air besar atau ketika buang air kecil….”[3]

Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mensyariatkan agama ini Dialah yang menciptakan alam semesta beserta isinya dan Dialah yang maha mengetahui kondisi semua makhluk-Nya serta cara untuk memperbaiki keadaan mereka? 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta besrta isinya) Maha Mengetahui (keadaan mereka)?, dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui (segala sesuatu dengan terperinci).” (QS. al-Mulk: 14).

Akan tetapi, kenyataan pahit yang terjadi adalah, untuk mengatasi fenomena buruk tersebut, mayoritas kaum muslimin justru lebih percaya dan kagum terhadap teori-teori/ metode pendidikan anak yang diajarkan oleh orang-orang barat, yang notabene kafir dan tidak mengenal keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga mereka rela mencurahkan waktu, tenaga dan biaya besar untuk mengaplikasikan teori-teori tersebut kepada anak-anak mereka.

Mereka lupa bahwa orang-orang kafir tersebut sendiri tidak mengetahui dan mengusahakan kebaikan untuk diri mereka sendiri, karena mereka sangat jauh berpaling dan lalai dari mengenal kebesaran Allah ‘Azza wa Jalla yang menciptakan mereka, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan mereka lupa kepada segala kebaikan dan kemuliaan untuk diri mereka sendiri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa (lalai) kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. al-Hasyr: 19)

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata, “Renungkanlah ayat (yang mulia) ini, maka kamu akan menemukan suatu makna yang agung dan mulia di dalamnya, yaitu barangsiapa yang lupa kepada Allah, maka Allah akan menjadikan dia lupa kepada dirinya sendiri, sehingga dia tidak mengetahui hakikat dan kebaikan-kebaikan untuk dirinya sendiri. Bahkan, dia melupakan jalan untuk kebaikan dan keberuntungan dirinya di dunia dan akhirat. Dikarenakan dia telah berpaling dari fitrah yang Allah jadikan bagi dirinya, lalu dia lupa kepada Allah, maka Allah menjadikannya lupa kepada diri dan perilakunya sendiri, juga kepada kesempurnaan, kesucian dan kebahagiaan dirinya di dunia dan akhirat. 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang telah kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami, serta menuruti hawa (nafsu)nya, dan keadaannya itu melampaui batas.” (QS. al-Kahfi: 28).

Dikarenakan dia lalai dari mengingat Allah, maka keadaan dan hatinya pun melampaui batas (menjadi rusak), sehingga dia tidak memperhatikan sedikit pun kebaikan, kesempurnaan serta kesucian jiwa dan hatinya. Bahkan, (kondisi) hatinya (menjadi) tak menentu dan tidak terarah, keadaannya melampaui batas, kebingungan serta tidak mendapatkan petunjuk ke jalan (yang benar).”[4]

Maka orang yang keadaannya seperti ini, apakah bisa diharapkan memberikan bimbingan kebaikan untuk orang lain, sedangkan untuk dirinya sendiri saja kebaikan tersebut tidak bisa diusahakannya? Mungkinkah orang yang seperti ini keadaannya akan merumuskan metode pendidikan anak yang baik dan benar dengan pikirannya, padahal pikiran mereka jauh dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memahami kebenaran yang hakiki? Adakah yang mau mengambil pelajaran dari semua ini?

–Bersambung insya Allah–
Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA
(muslim.or.id)
1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 4/482.
[2] Taisirul Karimir Rahman, hlm. 637.
[3] Hadits shahih riwayat Muslim, no. 262.
[4] Kitab Miftahu Daris Sa’adah: 1/86.

Selasa, 01 Februari 2011

Mengamati Berbagai Gaya Belajar Anak

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Pernah nggak Ayah Bunda mengamati dan mencari tahu, kenapa sih ada anak yang tidak mau diam? aktiiif sekali. Sedangkan di sisi yang lain ada juga anak yang cenderung lebih pendiam, duduk manis, suka membaca, dsb.
Ternyata hal ini berhubungan dengan cara setiap anak menangkap dan mengolah informasi yang mereka dapatkan. Gaya bekerja otak ini diterjemakan ke dalam gaya belajar anak yang berbeda-beda.
Jadi, bila buah hati Ayah Bunda termasuk yang aktif, tidak mau diam di kelas, jangan buru-buru mencapnya sebagai anak yang "nakal" atau malas belajar ya..?!!
Dengan memahami berbagai macam gaya belajar anak, maka stimulasi dan metoda belajar yang diberikan akan lebih tepat guna dan tepat sasaran, sehingga anak anda akan berkembang secara optimal.

Yuk, kita simak lebih lanjut (^_^)!
Thomas Amstrong memilah gaya belajar setiap orang menjadi tiga: Visual, Auditori, dan
Kinestetik (Haptik).

1. GAYA BELAJAR VISUAL (penglihatan)
Ciri pada anak:
- Lebih mudah ingat dengan cara melihat.
- Tidak terganggu oleh suara ribut saat belajar.
- Lebih suka membaca.
- Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu daripada menjelaskan.
- Tahu apa yang harus dikatakan tapi tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
- Tertarik pada seni seperti lukis, pahat, gambar daripada seni musik.
- Sering lupa jika harus menyampaikan pesan secara verbal kepada orang lain. 
- Lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar
- Memiliki kepekaan kuat terhadap warna
- Tertarik pada seni lukis, pahat, dan gambar, daripada musik
- Mudah menghafal tempat dan lokasi
 

Media/bahan yang cocok:
• Guru yang menggunakan bahasa tubuh atau gambar dalam menerangkan.
• Media gambar, video, poster dan sebagainya.
• Buku yang banyak mencantumkan diagram atau gambar
• Flow chart
• Grafik
• Menandai bagian-bagian yang penting dari bahan ajar dengan menggunakan warna yang berbeda
• Simbol-simbol visual

Strategi belajar:
• Mengganti kata-kata dengan simbol atau gambar, dan video.
 
 
Kendala pada anak:
Utamanya dalam visual motor, seperti terlambat menyalin pelajaran di papan tulis, dan tulisan tangannya berantakan sehingga tak terbaca.


2. GAYA BELAJAR AUDITORI (pendengaran)
Kaitannya dengan proses belajar menghafal, matematika dalam hal mengerjakan soal cerita, membaca, dan mengerti isi bacaan. 

Ciri pada anak:
- Mudah ingat dari apa yang didengarnya, mudah mengingat apa yang didiskusikan.
- Tak bisa belajar dalam suasana berisik atau ribut.
- Senang dibacakan atau mendengarkan.
- Lebih suka menuliskan kembali sesuatu, senang membaca dengan suara keras, dan pandai bercerita.
- Bisa mengulangi apa yang didengarnya, baik nada, irama, dan lainnya.
- Lebih suka humor lisan ketimbang baca buku.
- Senang diskusi, bicara atau menjelaskan panjang lebar.
- Menyenangi seni musik. 
- Mudah ingat dari apa yang didengar atau dibicarakan dengan teman-teman atau lingkungannya
- Senang dibacakan atau mendengar cerita dibanding membaca cerita sendiri
- Suka menuliskan kembali sesuatu
- Senang membaca dengan suara keras
- Pandai bercerita
- Bisa mengulangi apa yang didengarnya, baik nada atau irama
- Lebih suka humor lisan dibandingkan humor tulisan
- Senang diskusi, bicara, bertanya, atau menjelaskan sesuatu dengan panjang
- Mudah mempelajari bahasa asing
 

Media/bahan yang cocok:
• Menghadiri kelas
• Diskusi
• Membahas suatu topik bersama dengan teman
• Membahas suatu topik bersama dengan guru
• Menjelaskan ide-ide baru kepada orang lain
• Menggunakan perekam
• Mengingat cerita, contoh, atau lelucon yang menarik
• Menjelaskan bahan yang didapat secara visual (gambar, power point, dsb.)

Strategi belajar:
• Catatan yang Anda buat mungkin sangat tidak memadai. Tambahkan informasi yang didapat dengan cara berbicara dengan orang lain dan mengumpulkan catatan dari buku.
• Rekam ringkasan dari catatan yang dibuat dan dengarkan rekaman tersebut
• Minta orang lain untuk ‘mendengar’ pemahaman Anda mengenai suatu topik
• Baca buku atau catatan dengan keras
 

Kendala pada anak:
Sering lupa apa yang dijelaskan guru, sering lupa membuat tugas yang diinstruksikan guru secara lisan, kerap keliru mengerjakan seperti yang diperintahkan guru, dan kesulitan mengekspresikan apa yang dipikirkan.
 
 
3. GAYA BELAJAR KINESTETIK (gerak)
Kaitannya dengan proses belajar yang membutuhkan banyak gerak, semisal pelajaran olahraga dan percobaan-percobaan sains. 

Ciri pada anak:
- Lebih banyak menggunakan bahasa tubuh.
- Menyukai kegiatan atau permainan yang menyibukkan secara fisik.
- Ketika membaca, menunjuk kata-katanya dengan jari tangan.
- Kalau menghafal sesuatu dengan cara berjalan atau melihat langsung.
- Belajar melalui praktik langsung atau dengan manipulasi (trik, peraga).
- Banyak gerak fisik dan punya perkembangan otot yang baik.
- Menanggapi perhatian fisik. 

Media/bahan yang cocok:
• Menggunakan seluruh panca indera – penglihatan, sentuhan, pengecap, penciuman, pendengaran.
• Laboraturium
• Kunjungan lapangan
• Pembicara yang memberikan contoh kehidupan nyata
• Pengaplikasian
• Pameran, sampel, fotografi
• Koleksi berbagai macam tumbuhan, serangga, dan sebagainya


- Gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya
- Suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan tangannya sangat aktif
- Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
- Banyak melakukan gerakan fisik
- Ketika membaca, ia menunjuk kata-kata dalam bacaan dengan jari tangannya
- Lebih suka mendemonstrasikan sesuatu dengan peragaan atau gerakan daripada menjelaskan
 

Strategi belajar:
• Anda akan mengingat kejadian nyata yang terjadi
• Masukan berbagai macam contoh untuk memudahkan dalam mengingat konsep
• Gunakan benda-benda untuk mengilustrasikan ide
• Kembali ke laboraturium, atau tempat Anda dapat melakukan eksprimen
• Mengingat kembali mengenai eksperimen, kunjungan lapangan, dan sebagainya.
 

Kendala pada anak:
Anak cenderung tidak bisa diam. Anak dengan gaya belajar seperti ini tidak bsia belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional di mana guru menjelaskan dan anak duduk diam. Anak akan lebih cocok dan berkembang bila di sekolah dengan sistem active learning, di mana anak banyak terlibat dalam proses belajar.


 Nah, berikut ini adalah kepercayaan-kepercayaan lama yang keliru tentang belajar :

1.Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dengan duduk tegak di depan meja.
Penelitian telah membuktikan bahwa banyak manusia menghasilkan kinerja yang lebih baik di  lingkungan informal. Ketika seorang duduk di kursi yang keras, kira-kira 75 % persen berat badannya ditopang oleh tulang yang hanya sepuluhsentimeter persegi. Akibat tekanan tersebut pada jaringan pantat sering menyebabkan kelelahan, perasaan tidak nyaman dan kebutuhan sering mengubah-ngubah tempat duduk.Maka banyak sekolah modern di dunia yang juga menyediakan karpet dan lantai kelas mereka untuk tempat pembelajaran agar anak tidak jenuh dan penat untuk selalu duduk belajar dengan formal.

2.Cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dalam ruangan dengan pencahayaan yang  terang karena pencahayaan yang redup akan merusak mata mereka ketika membaca dan bekerja.
Penelitian membuktikan bahwa siswa menghasilkan kinerja yang lebih baikdalam ruangan berpencahayaan redup sedangkan pencahayaan yang terang membuat mereka gelisah, cemas dan mendorong anak menjadi hiperaktif. Pencahayaan redup memberikan ketenangan kepada banyak siswa dan membantu mereka untuk merasa lebih santai dan berfikiran jernih.

3.Siswa belajar lebih banyak dan lebih baik dalam lingkungan yang benar-benar sunyi.
Penelitian mengungkapkan banyak orang dewasa mampu berfikir dan mengingat paling baik ketika mendengarkan musik. Dan penelitian di negara maju menunjukan 40% siswa menengah lebih menyukai mendengarkan suara musik dan kebisingan saat belajar, mereka tidak dapat berkonsentrasi dalam keadaan sunyi. Namun selalu ada siswa dalam tiap-tiap kelompok membutuhkan suasana yang benar-benar sunyi. Lingkungan belajar dan pelatihan seharusnya melayani kedua kebutuhan ini.
4.Siswa lebih mudah mengenali subjek yang sulit pada awal pagi ketika mereka masih dalam kondisi paling waspada.
Hal ini tidak berlaku bagi semua pembelajar. Apabila siswa dibiarkan belajar pada waktu-waktu yang paling tepat bagi mereka, maka sikap, motivasi dan nilai matematika mereka akan membaik. Tidak semua anak dapat berkonsentrasi pada pagi hari dan itulah sebabnya para pembelajar sore dan para “tukang begadang” malam mendapat masalah belajar dalam tatanan pendidikan tradisional yang menjadwalkan subjek-subjek sulit pada jam-jam pagi hari

5.Siswa yang tidak bisa duduk tenang berarti belum siap belajar atau tidak bisa belajar dengan cara yang benar.
Biasanya siswa yang lebih banyak dari kalangan laki-laki membutuhkan mobilitas saat mereka belajar. Kebanyakan siswa yang terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran cenderung belajar lebih banyak, dan memperhatikan lebih cermat dan meraih nilai tes lebih tinggi dibanding apabila mereka harus duduk diam dan mendengarkan saja.

6.Umumnya semakin bertambah usia semakin mudah mereka beradaptasi dengan gaya mengajar seorang guru.
Meskipun memang benar bahwa siswa dewasa membutuhkan motivasi yang lebih sedikit dari guru, juga struktur yang lebih sedikit, mereka tetap belajar dengan cara yang berbeda , memiliki kebutuhan dengan gaya berbeda. Sebagai mana siswa yang lebih muda usianya, merekapun mendapatkan kesulitan yang sama dalam menghadapi para guru dan pelatih dengan gaya mengajar yang tidak sama dengan gaya belajar mereka.


Semua hal diatas adalah pemikiran keliru mengenai gaya belajar dan mengajar yang perlu dikoreksi lagi. 

Bagaimana solusinya? 

Yang pertama perlu dilakukan para guru, orang tua dan pelatih adalah :
  • Setiap orang tua dan pendidik seharusnya memiliki pengetahuan tentang gaya belajar yang berbeda .
  • Para pendidik harus siap mengimplementasikan metode pengajaran yang berpusat pada siswa dan sebisa mungkin memenuhi kebutuhan semua siswa.
  • Orang tua harus mengerti perbedaan gaya belajar pada anak-anak mereka sebaiknya mendukung kebutuhan belajar mereka yang sebenarnya dan menciptakan lingkungan belajar yang akrab dirumah. Serta tidak memaksakan kehendak untuk mengikuti gaya belajar mereka.
 
Nahh... tipe yang manakah Buah Hati Ayah Bunda? 
Happy Learning with Love (^_^)
~BuBu~
Sumber :
episentrum.com





 

Jumat, 21 Januari 2011

*** Kisah haru : Nilai sebuah Apresiasi Bagi Anak ***

Dalam sebuah buku berjudul “Seni Mendidik Anak” karya Syaikh Muhammad Said Mursi, ada hal yang sangat menarik tentang Apresiasi untuk anak.

Berikut kutipannya:
Anak haruslah merasa bahwa dirinya merupakan kebanggan orang tua, keluarga, guru, dan orang lain.
Dia harus diperlakukan sebagai seorang yang berharga, serta keberadaaan dan usahanya harus dianggap diperlukan oleh orang lain. Untuk membangkitkan perasaan tersebut dapat dilakukan dengan melibatkannya dalam memberikan bantuan yang sederhana kepada orang lain yang ada di sekelilingnya, dilibatkan dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah sesuai kemampuannya. Seperti menyapu, menghilangkan debu, membuang sampah, membawakan sesuatu untuk ibu dan ayahnya, membawa sesuatu untuk tamu dan kerabat ketika ada kunjungan keluarga dan sebagainya.

Tidak dibenarkan bila seorang bapak berkata kepada anaknya, ‘Pergilah kamu, karena kamu masih kecil, jangan banyak bicara’. Atau melarangnya untuk bermain besama kakaknya, seraya dikatakan kepadanya, “Kalau kamu sudah seumur dengan saya, kamu baru boleh bermain dengan saya. Nanti kalau sudah besar baru boleh bermain dengan saya”. Jangan salahkan apabila ia sering pergi bersama anak perempuan tetangga yang suka menghargainya, atau ia pergi ke lingkungan yang rusak, karena di sana ia merasa dihargai, atau lebih mencintai gurunya karena ia suka memujinya ketika ia menjawab pertanyaan, atau bermain dengannya pada mata pelajaran olah raga. Sehingga gurunya menjadi panutan yang utama dan bukan bapak atau saudaranya

Saya jadi teringat suatu ketika dalam sebuah forum reuni, di sana kami saling curhat. Salah seorang teman menceritakan tentang masa lalunya. Allah menakdirkan kakinya tidak “sempurna”. Ada perasaan minder pada dirinya, beliau melihat dirinya berbeda, dirinya tidak “sempurna”. Tapi ternyata, itu tidak membuatnya putus asa. Beliau lakukan berbagai hal untuk membuat dirinya berarti dan membuat orang tuanya bangga. Alhamdulillah, di sekolahnya, beliau masuk 10 besar. Tentunya beliau senang. Guru dan temannya memberikan selamat kepadanya. Namun, ketika menyampaikan pada ayahnya, ternyata jauh dari harapan. Tak ada ucapan selamat. Dingin. Kering. Kecewa ? sudah pasti.

Namanya kehidupan, tentu ada pasang surutnya. Suatu ketika, ternyata prestasi beliau tidak seperti biasanya. Beliau tidak masuk 10 besar di kala itu. Dan ayahnya marah luar biasa. Kata demi kata bertubi-tubi menghujani dirinya. Padahal, baru sekali tidak masuk 10 besar. Dan beliau pun masih di rangking belasan, bukan di papan bawah. Tapi seolah itu adalah kesalahan fatal yang tak termaafkan. Beliau menangis. Hatinya hancur. Pikirannya kalut. Di benaknya berseliweran pikiran-pikiran buruk. Beliau berpikir, di saat mendapat prestasi, tak ada sedikitpun penghargaan. Padahal itu dicapai dengan perjuangan luar biasa. Tapi, ketika sedikit saja ‘kesalahan’, luapan kemarahan seakan tak terbendung. Dan itu dilakukan oleh ayahnya sendiri.


Kemudian beliau melanjutkan ceritanya “Dan tahukah apa yang gue lakuin?? Gue pergi ke loteng rumah. Ya, ke loteng rumah gue yang tinggi. Di situlah kemudian gue loncat. Gue loncat.. Gue bunuh diri!!”, kemudian pecahlah tangisnya. Tangis seorang anak yang begitu rindu ucapan sayang orang tuanya. Rindu akan kata “Anakku, subhanallah, kau hebat!”. Anak yang butuh pengakuan bahwa dirinya berarti, walaupun Allah menakdirkan ‘ketidaksempurnaan’ pada fisiknya. Dan beliau ingin bahwa pengakuan itu muncul dari orang tuany, orang tua yang membesarkannya.

Tapi ternyata, Allah SWT punya lain rencana. Beliau tidak meninggal. Allah masih memberikan kehidupan.

Hal itu terjadi berulang-ulang, katanya. Bahkan lolosnya beliau di UMPTN dan masuk perguruan tinggi paling ternama di Indonesia, tidak membuat sang ayah mengahargainya. Di akhir curhatnya, beliau berkata “Kenapa gue bilang ini ke kalian semua dan enggak ke orang lain, karena kalian mau nerima gue. Kalian mau nerima gue apa adanya. Walaupun gue cacat…. “ isak tangisnya kembali pecah.

“Gue pengen kejadian itu enggak terjadi ke kalian semua. Cukup gue aja. Cukup gue aja… Entah juga kenapa Allah masih memberi gue hidup. Padahal gue udah coba bunuh diri 3 kali!…”, Tangisnya semakin keras, tubuhnya berguncang, beliau menangis sejadi-jadinya. Kemudian seorang teman kami segera memeluknya


Bapak, Ibu, Dads, Moms, Abi dan ummi, semoga kisah ini bisa jadi pembelajaran bagi kita semua, bahwa begitu besar pengaruh sebuah penghargaan bagi seorang anak. Walaupun hanya sebuah senyuman, sebuah kata penyemangat atau hadiah sebatang coklat, itu cukup membuat mereka merasa berarti di hadapan kita orang tunya. Dan semoga harapan teman saya ini bisa terwujud. Bukankah indah jika harapannya terwujud?